Home / Daerah / “PUTAK atau Puta Laka” Bukan Makanan Ternak
“PUTAK atau Puta Laka” Bukan Makanan Ternak

“PUTAK atau Puta Laka” Bukan Makanan Ternak

(foto Putak atau Puta Laka, makanan alternatif yang menjadi kekhasan orang Timor)

SoE, fajartimor.com- Selain Penpasu (Jagung Bose), Putak atau Puta Laka adalah makanan khas orang Timor. “Bila ada pendapat miris soal Putak itu makanan ternak, maka itu adalah pendapat bodoh”.

Penegasan tersebut disampaikan oleh mantan Kadis Perikanan dan Kelautan TTS Drs. Yaan Tanaem  kepada Media ini di kantor Bupati TTS Rabu (24/6).

Menurut Tanaem, jika ada orang yang berasal dari TTS yang menyatakan bahwa “Putak” adalah makanan ternak, itu pernyataan yang sangat bodoh dan memalukan.
“Sangat memalukan kalau orang TTS mengatakan bahwa “Putak” adalah makanan ternak. Mungkin dia bukan orang TTS,”kesal Tanaem.
Dikatakan makanan jenis putak yang diolah dari batang gebang ini mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dan selalu dijual oleh warga TTS lebih khusus warga, Boking, Toianas, Amanatun Utara dan sebagian Amanuban Timur.
“Coba cek di pasar Boking, Toianas, pasar Ayotupas dan di Amanuban Timur, warga kita jual Putak, dan itu sudah sejak dulu dari nenek moyang kita. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa putak makanan ternak, ya mungkin dia tidak paham dan tidak tau apa itu putak,”sindir Tanaem.
Diakui bahwa Putak diolah dari batang gewang (gebang) yang proses  pengolahannya memakan waktu.
“Putak atau Puta Laka sebelum dikonsumsi diproses secara bertahap. Tidak kemudian batang gewang (gebang) ditebang, diambil hatinya, kemudian langsung di komsumsi. Jadi hemat saya, bila ingin berpendapat, soal kekhasan makanan lokal belajarlah sejarah atau paling tidak bertanyalah. Jangan asal bicara. Karena orang TTS bukanlah Ternak. Begitu!”, tegas Tanaem.
Kekesalan yang sama juga disampaikan Lusi Tusalak. Kepada media ini, warga Mollo (Kapan) tersebut menyayangkan pemberitaan media yang dinilainya melecehkan kekhasan makanan lokal TTS.
“Sebagai warga TTS saya tersinggung, bila putak diklasifikasikan sebagai jenis makanan yang dimakan ternak. Bila pendapat tersebut keluar dari mulut seorang tokoh atau publik figur, maka saya boleh mengatakan pernyataan orang tersebut sebenarnya tidak patut dan cermat. Dan pendapat bodoh tersebut harus dilawan orang TTS”, kesal Lusi.

Dijelaskan Putak adalah makanan tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang orang timor semenjak dahulu kala. Hingga saat ini warga TTS masih mengkonsumsi makanan yang diolah dari batang gewang ini.
“Ini makanan enak dan punya nilai karbohidrat yang sangat tinggi. Jadi kalau dibilang makanan ternak, maka pernyataan tersebut jelas telah menginjak injak martabat dan harga diri orang timor (TTS)”, kata Lusi kecewa.
Bukan hanya Yan Tanaem dan Lusi yang merasa kesal tetapi Edison Tefa warga Ayotupas Kecamatan Amanatun Utara juga meluapkan kekesalannya. Menurut dia pernyataan bahwa warga TTS makan makanan ternak adalah pernyataan yang rendahkan warga TTS.
“Saya tidak suka kalau ada yang bilang kami makanan makanan ternak, sangat memalukan. itu sama dengan dia bilang kami sama dengan sapi dan babi yang biasa makan batang gewang (gebang),”kata Edison Tefa di Pasar Inpres SoE Rabu (24/6).
Menurut ketiganya jika ada warga TTS yang mengeluarkan pernyataan demikian sebaiknya segera meminta maaf kepada masyarakat TTS. Karena “Puta Laka” adalah makanan warisan para leluhur yang terus dilestariskan hingga sekarang ini.

Makanan tersebut, diyakini warga sebagai makanan alternatif atau pilihan yang mempunyai nilai karbohidrat yang sangat tinggi. Umumnya makanan lokal  ini dijumpai di sebagian pasar seperti Pasar Boking Kecamatan Boking , Pasar Toianas di Kecamatan Toianas dan Pasar Ayutupas di Kecamatan Amanatun Utara termasuk di Kabupaten Belu dan Malaka. (ft/pp)

About admin

Scroll To Top