Ambros Kodo Gagas dan Launching Gerakan NTT Membaca, NTT Menulis

Artikel ini Telah di Baca 162 Kali
  • Bagikan

Kupang, fajartimor.com – Ambros Kodo, S.Sos, M.M, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, menggagas dan sekaligus melaunching Gerakan NTT Membaca dan Menulis (Genta Belis) demi capaian literasi anak-anak NTT.

Kegiatan launching Genta Belis yang bertempat di Hotel Silvia Kupang pada Jum’at (22/11/2024), menghadirkan sejumlah mitra dan stakeholder.

Diketahui, setelah mengikuti pelatihan kepemimpinan Tingkat Nasional yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Nasional bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah provinsi Banten yang selanjutnya mendorong peserta dalam menemukan perubahan maka kemudian digagaslah Genta Belis atau Gerakan NTT Membaca dan Menulis.

“Nah saya lalu membuat proyek perubahan dengan judul Genta Belis atau Gerakan NTT membaca NTT menulis yang menjadi strategi dalam meningkatkan capaian literasi anak-anak NTT yang hari-hari ini mengalami degradasi”, terang Ambros

Menurut Kadis P&K yang pernah menjabat sebagai kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah tersebut, proyek Genta Belis harus dilaksanakan karena berangkat dari kegusaran akan capaian literasi yang jauh sekali dari harapan kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi.

“Mengapa saya memilih proyek perubahan ini ya karena saya berangkat dari kegusaran bahwa capaian literasi provinsi NTT pada raport Pendidikan hanya mencapai kompetensi minimum literasi 20% hingga 50% lebih bahkan hampir sampai 70%. Fakta ini jelas menjadi indikasi kalau anak-anak kita tidak mencapai kompetensi minimum literasi”, beber Ambros.

Anak-anak NTT lanjutnya, lebih banyak membaca dalam tatapan namun kemudian tidak bisa memahami.

“Kegusaran itu kemudian ditambah lagi dengan hasil kajian lembaga literasi dunia pada tahun 2022 sekaligus menyimpulkan bahwa Indonesia mengalami kerugian setiap tahun 200 Triliun Rupiah akibat ketidak mampu literasi anak-anak”, jelas Ambros.

Refleksi yang sama yakni berangkat dari kondisi kualitas pendidikan di NTT dimana ada pengalaman , orang hanya membaca judul-judul berita di platform media sosial lalu diikuti dengan komentar unik bernada provokatif.

Lainnya lagi, anak-anak NTT sangat sulit sekali menulis. Kesulitan menulis itupun sebagai akibat kurangnya kualitas membaca diimbangi nilai paham. Jika demikian maka orang pasti ketiadaan kosa kata. Dan bila faktanya demikian maka jangankan menulis, menyampaikan pikiran dalam lisan saja sudah tentu sulit dan praksis jauh dari harapan.

“Saya justru menyimpulkan, kita harus memberi perhatian pada gerakan NTT membaca NTT menulis karena apa refleksi saya minat baca anak-anak, guru juga warga harus didorong agar pada gilirannya harapan kualitas hidup bisa tercapai”, tukas Ambros.

Khusus Guru dan Siswa, Genta Belis ini diyakini mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

“Pengalaman membuktikan, banyak anak-anak NTT tidak bisa bersaing dengan anak-anak dari luar NTT. Karena literasinya minim bahkan nihil et nihilo”, urai Ambros.

Hari ini telah di launching proyek Genta Belis. Ini adalah bukti gerakan bersama dalam mewujudnyatakan anak-anak NTT yang tidak saja cerdas tapi juga cakap.

“Saya meminjam istilahnya Profesor Sanam bahwa peningkatan kualitas pendidikan di NTT harus dilihat dan dimaknai sebagai semua gerakan bersama”, tegas Ambros.

Launching Genta Belis atau Gerakan NTT Membaca, NTT Menulis melibat sejumlah mitra diantara Unicef, Gramedia juga sejumlah percetakan lainnya, para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, para Kabid serta kepala sekolah SMA/SMK dan sederajat termasuk menghadirkan sejumlah siswa SMA/SMK negeri dan swasta.

“Gramedia sudah membantu kita dengan satu unit perpustakaan digital”, tutup Ambros sembari menambahkan jika pihak dinas kemudian meminta keterlibatan perpustakaan- perpustakaan nasional untuk selanjutnya kita membantu sekolah-sekolah memajukan minat baca.

“Guru dan siswa bisa diperbolehkan membaca pada perpustakaan yang tersonasi dengan tenggat waktu membaca antara 15 menit hingga 30 menit”, aku Ambros. (Ft/Boni)

  • Bagikan