BP DAS NTT Garda Terdepan Kawasan Hulu, Dilema Besar Saat Ruas Jalan Nasional Terus Tertimbun Longsor

Artikel ini Telah di Baca 923 Kali
  • Bagikan
Luka visual longsoran Takari yang dibiarkan menganga. (Foto istimewa)
Luka visual longsoran Takari yang dibiarkan menganga. (Foto istimewa)

Kupang, fajartimor.com — Di balik lengang perbukitan Nusa Tenggara Timur, tanah perlahan kehilangan sabarnya. Ia bergerak tanpa suara, digesek hujan, digeser aliran yang tak lagi tertata, seolah menagih janji penjagaan yang belum ditepati. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) NTT, yang selama ini digadang sebagai garda terdepan pengelolaan kawasan hulu, kembali berada dalam sorotan tajam ketika kerusakan di hulu makin menampakkan wajahnya di hilir.

Di jalur strategis nasional, potret itu

tampak jelas, terutama di Ruas Jalan Takari. Setiap musim hujan, jalur trans nasional tersebut nyaris tak pernah lepas dari ancaman longsor. Tanah dan bongkahan batu terus meluncur dari tebing yang lapuk, menimbun badan jalan, memutus arus transportasi, dan menghambat ribuan perjalanan yang bergantung pada satu-satunya urat nadi darat menuju Kupang dan wilayah Timor lainnya.
Takari hanyalah satu nama dari daftar panjang. Di berbagai titik jalan negara, provinsi, hingga jalan kabupaten, kecamatan, dan desa, longsor datang silih berganti—sebuah pertanda lemahnya pengelolaan kawasan hulu yang menjadi sumber semua aliran.

Dari ketinggian itulah persoalan bermula. Ketika penjagaan melemah, lapisan tanah menipis, rapuh tergerus air yang mencari jalurnya sendiri menuju lembah. Erosi tumbuh tanpa bunyi, menyusup ke lereng, merontokkan daya sandang tanah, lalu menyeret sedimen dalam jumlah besar ke sungai-sungai di bawahnya.
Sedimentasi pun meningkat, mempersempit aliran, meredupkan kejernihan air, hingga perlahan merusak keseimbangan ekosistem yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.

Di balik semua itu, ancaman yang lebih besar justru mengintai: kerusakan pada Zona Konservasi Air, kawasan vital yang menjadi urat nadi bagi jutaan warga NTT. Ketika zona ini tergerus oleh kerusakan hulu, maka hilir pun terkena imbas, lahan pertanian kekurangan pasokan air, desa-desa dilanda kekeringan lebih awal, dan cadangan air tanah terus menipis dari tahun ke tahun saat musim panas berkepanjangan.

Para pemerhati lingkungan mengingatkan, tanpa langkah cepat dan terukur, retakan kecil di hulu akan melebar menjadi krisis ekologi yang jauh lebih besar. Mereka mendesak BP DAS Benain–Noelmina untuk mempertegas fokus pada pemulihan daerah ketinggian, tak sekadar menjaga persemaian tanaman, tetapi memastikan hutan-hutan hulu dirawat, dipulihkan, dan dijaga sebagai benteng alami penahan bencana.

Di tengah bentang NTT yang saban tahun menagih keteguhan warganya, harapan masyarakat tetap sederhana: agar penjaga hulu kembali menegakkan kewaspadaan. Sebab dari titik tertinggi itulah masa depan air, keseimbangan ekologi, dan keselamatan jalur trans nasional ditentukan, sebuah tanggung jawab yang tak boleh lagi ditunda.(Ft/tim)

  • Bagikan