Di Antara Nada dan Kata: Wagub Johni Asadoma Menyapa Media dalam Harmoni Kolaborasi

Artikel ini Telah di Baca 900 Kali
  • Bagikan

Kupang, fajartimor.com — Aula Rumah Jabatan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Jumat, 2 Januari 2026, petang itu tidak sekadar menjadi ruang pertemuan formal. Ia menjelma menjadi ruang jiwa, tempat kata menemukan maknanya, nada menemukan rumahnya, dan niat baik bertemu dalam satu irama yang tenang namun berdaya.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, hadir menyapa awak media dengan wajah teduh dan bahasa yang tidak meninggi, tetapi mengakar. Ia tidak berdiri di atas mimbar kekuasaan, melainkan berada di tengah percakapan. Pertemuan itu bukan sekadar penanda kalender awal tahun, melainkan ruang dialog dimana pemerintah dan media duduk sejajar, saling mendengar bukan untuk membalas, saling memahami bukan untuk menang, dan saling menguatkan demi satu tujuan bersama: membangun Nusa Tenggara Timur dengan nurani.

Dalam suasana yang cair dan bersahabat, Johni Asadoma menegaskan bahwa media bukan hanya pembawa kabar, melainkan penjaga kesadaran publik. Media, katanya, adalah mitra strategis dalam merawat nalar masyarakat, menumbuhkan optimisme sosial, serta menjaga arah pembangunan agar tetap berpihak pada kemanusiaan. Pembangunan, baginya, tidak cukup diukur oleh beton yang menjulang atau angka statistik yang naik turun, tetapi oleh kualitas komunikasi, kejujuran dalam menyampaikan fakta, serta keberadaban dalam merawat perbedaan.

Lalu, seperti jeda dalam puisi, suasana berubah. Nada kebersamaan menemukan bentuknya yang paling sederhana namun jujur ketika Johni Asadoma memilih cara yang tak lazim bagi seorang pejabat: bernyanyi. Ia membawakan tembang kenangan Broery Marantika, lagu dari masa lalu yang menolak menjadi usang. Suaranya mengalun pelan, tanpa pretensi, tanpa jarak kekuasaan. Di antara bait-bait lagu itu, seakan terucap pesan sunyi: bahwa manusia tetaplah manusia, bahkan ketika ia memikul amanah negara.

Lagu itu menjelma metafora. Bahwa membangun daerah, seperti halnya musik, membutuhkan harmoni. Pemerintah, media, dan masyarakat adalah nada-nada berbeda tidak untuk diseragamkan, melainkan untuk diselaraskan. Sebab dari perbedaan yang dirawat dengan saling percaya, lahirlah komposisi besar bernama Nusa Tenggara Timur yang beradab dan berdaya.

Di akhir pertemuan, sekat-sekat mencair dengan sendirinya. Yang tertinggal bukanlah gema tepuk tangan, melainkan kesadaran bersama: bahwa kolaborasi adalah fondasi peradaban, dan pembangunan yang berkelanjutan hanya mungkin tumbuh dari dialog yang jujur, kepercayaan yang dijaga, serta keberanian untuk tetap manusiawi, sebagaimana kata Chairil, “hidup hanya menunda kekalahan,”namun bersama, kekalahan itu bisa diubah menjadi harapan.

Dari Aula Rumah Jabatan Wakil Gubernur NTT, Jumat petang itu, mengalir pesan yang sederhana namun bernas: membangun daerah bisa dimulai dari menyapa, dari mendengar, dan sesekali dari bernyanyi bersama. (Boni Lerek)

  • Bagikan