Home / Berita utama / Di Saat-saat Sulit Frans Lebu Raya Bangga Bisa Bersama Ibu Megawati
Di Saat-saat Sulit Frans Lebu Raya Bangga Bisa Bersama Ibu Megawati

Di Saat-saat Sulit Frans Lebu Raya Bangga Bisa Bersama Ibu Megawati

Frans Lebu Raya : PDIP merupakan partai pemenang Pemilu di Indonesia sejak pemilu tahun 1999 lalu. Sementara di NTT, pada Pemilu April 2019 ini berhasil memenangkan Pemilu dan merebut kursi Ketua DPRD NTT. Berikut petikan wawancara media ini dengan ketua DPD PDIP NTT, Frans Lebu Raya, Kamis (24/7/19) sore.

Wartawan : Bapak adalah salah satu pendiri PDIP di NTT. Bisa diceritakan sekilas tentang suka-duka untuk membesarkan PDIP di NTT saat didirikan?

Frans Lebu Raya : Sejak tahun 1996 saya masuk di PDI Kotamadya Kupang sebagai salah satu wakil ketua. Tidak lama kemudian, di tahun 1997 PDI pecah melalui kongres luar biasa di Medan yang memilih pak Suryadi sebagai ketua menggantikan ibu Megawati. Maka lahirlah PDI ProMega. Di NTT lahirlah PDI ProMega dengan ketuanya pak Anton Haba (alm) dan sekretarisnya saya sendiri.

PDI ProMega di pemilu 1997 mengajukan calon anggota DPR tapi tidak dibahas penyelenggara pemilu. Suasana politik saat sangat keras dan bahkan mencekam. Kami PDI ProMega bertahan dalam situasi itu. Dengan kepengurusan yang ada dan apa adanya berusaha untuk  terus melakukan konsolidasi partai ke kabupaten-kabupaten.

Wartawan : Bagaimana dalam situasi tertekan PDIP bisa bangkit di NTT?

Frans Lebu Raya : Tahun 1998 terjadi perubahan politik ditandai dengan jatuhnya Presiden Soeharto. Di tahun itu juga dilaksanakan Kongres di Bali dan memutuskan mengubah nama menjadi PDI Perjuangan dan menyiapkan diri untuk mengikuti Pemilu 1999. Agar ada kekuatan hukumnya maka para Ketua dan Sekretaris membuatkan pernyataan mendukung PDI Perjuangan. Pak Anton Haba selaku ketua dan saya sebagai sekretaris membuat pernyataan dukungan pendirian PDI Perjuangan sebagai salah satu kelengkapan PDIP.

Pemilu 1999 PDIP resmi sebagai salah satu peserta pemilu dan memenangkan pemilu secara nasional. Di NTT PDIP di urutan kedua setelah Golkar.

Wartawan : Sejak kapan Bapak memimpin PDIP NTT?

Frans Lebu Raya : Tahun 2000, PDIP NTT melaksanakan konferda di Ende dan saya terpilih sebagai ketua. Dan seterusnya konferda 2005, 2010 dan 2015 saya dipercaya kembali menjadi ketua. Dan besok akan dilaksanakan konferda untuk pergantian kepengurusan. Selama 23 tahun saya aktif di partai ini.

Wartawan : Apakah kesan Bapak selama memimpin PDIP?

Frans Lebu Raya : Ada kebangaan tersendiri. Ada beberapa kebanggaan saya :

Pertama, saya bangga karena bisa bersama Ibu Megawati Soekarnoputri dimasa-masa sulit. Turut merasakan bagaimana pahit getirnya berjuang. Bersama banyak tokoh tua yang sebagian sudah dipanggil Tuhan. Sebut saja ada bapa Herman Loemau di Belu, ada bapa Tulen Hadjon di Flores Timur, ada pak Lusi Keupung, EP da Gomez, Alex Longginus di Maumere. Ada bapak Keremata di Sumba barat dan bapa E.K. Anakonnda di Sumba timur. Ada pak Toby Selan di TTS dan bapa Lololau di Kupang dan masih banyak tokoh. Kami semua bangga bisa bersama Ibu Megawati Soekarnoputri di saat-saat sulit.

Kedua, bangga karena saya dipercaya memimpin partai ini di NTT selama 20 tahun.

Ketiga, bangga karena selama ini PDIP menjadi salah satu partai besar di NTT.

Keempat, bangga karena setiap kali pilpres langsung sejak 2004 sampe pilpres 2019 NTT selalu memenangkan pasangan yang diusung PDIP.

Kelima, saya bangga memimpin kongres 3 kali berturut-turut tahun 2005, 2010 dan 2015 mengantarkan Ibu Megawati Soekarnoputri yang kami sayangi menjadi Ketua Umum. Dan kongres nanti 8 Agustus di Bali kami telah berkoordinasi dengan ketua-ketua DPD se-Indonesia mendukung kembali Ibu Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum kembali. Setia sebagai anak ideologis.

Dan hari ini bangga karena saya telah menyelesaikan masa jabatan saya yang ke empat dengan memenangkan Pileg dan Pilpres. Menempatkan 3 anggota DPR RI dan ketua DPRD Provinsi.

Wartawan : Apa himbauan Bapak untuk peserta konferda besok?

Frans Lebu Raya : Konferda besok merupakan mekanisme 5 tahunan yang mesti dilalui oleh partai sebesar PDIP ini. Akan muncul generasi baru yang lebih hebat untuk memacu kecepatan partai ini menghadapi berbagai perjuangannya demi rakyat. Tidak perlu gontok-gontokan tapi bangun persaudaraan seperti yang kita bangun selama ini dengan asas gotong-royong dan kekeluargaan. (cn/tim/ft)

About Bony Lerek

Scroll To Top