Home / Berita utama / Dikerjakan PT. AGG, Progres Fisik 2 Proyek APBN Senilai Rp 33,7 M Hanya 30-an Persen
Dikerjakan PT. AGG, Progres Fisik 2 Proyek APBN Senilai Rp 33,7 M Hanya 30-an Persen

Dikerjakan PT. AGG, Progres Fisik 2 Proyek APBN Senilai Rp 33,7 M Hanya 30-an Persen

Ende, fajartimor.Com – Progres fisik 2 Proyek Peningkatan Jalan Nasional Ruas Gako-Aegela senilai Rp 18 Milyar dan Ruas Ende Detusoko senilai Rp 15,7 Milyar yang dikerjakan PT. Agogo Golden Group (AGG) hanya mencapai sekitar 30-an persen pada 31 Desember 2019.

Seperti disaksikan tim investigasi media ini Sabtu (11/1/20) siang tampak ada pekerjaan pelebaran, penimbunan badan jalan, tembok penahan dan drainase sekitar 3,9 km dari Poko menuju Aegela, Kabupaten Ende.

Pekerjaan pelebaran masih sedang dikerjakan. Begitu pula dengan pekerjaan penimbunan yang menggunakan kerikil kali/bulat bercampur pasir dengan ke dalam lubang garukan sekitar 30 cm.

Pekerjan drainase dan dinding penahan pun masih sedang dikerjakan. Pasangan drainase yang terpasang sekitar beberapa ratus meter. Sementara yang lainnya masih berupa galian tanah yang digenangi air hujan sehingga jalan menjadi becek dan licin.

Pekerjaan hotmix pelebaran sepanjang 3,9 km juga belum dikerjakan sama sekali. Masih terlihat lubang-lubang garukan sekitar 30 cm dan timbunan material berupa kerikil kali/bulat bercampur pasir (sebagai agregat, red) di sisi jalan.

Tampak 1 unit excavator, 1 unit Fibro dan satu unit dump truck di sekitar Kecamatan Boawae. Terlihat beberapa orang tenaga kerja berada di tempat alat berat itu diparkir. Di ruas jalan ini juga tampak beberapa walas kecil yang digunakan untuk pemadatan agregat.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Donatus Nelo yang dikonfirmasi media ini melalui telepon selularnya mengatakan, “Kalau ada kesalahan di lapangan nanti akan diperbaiki dan diganti,” ujarnya.

Usai dihubungi per telepon selular, Nelo mengirim pesan WA kepada media ini, “Agregat yang tidak sesuai dengan spek akan diangkut dan diganti semuanya,” tulisnya kemudia dihapus beberapa menit kemudian.

Sementara itu, pantauan media ini Senin (13/1/20) sore di Jalan Nasional ruas Ende-Detusoko, titik pekerjaan awal dimulai dari Desa Wolofeo. Tampak timbunan material hasil gusuran pelebaran yang menggunung di sekitar jembatan Wolofeo dan membahayakan pengendara.

Di ruas jalan ini terlihat 2 unit excavator, 1 Buldozer dan 1 unit dump truck berlabel PT. Gajah Mas sedang diparkir di Desa Wolofeo. Masih terlihat tumpukan timbunan hasil gusuran di beberapa lokasi sepanjang ruas tersebut.

Sekitar 1 km dari lokasi itu, tampak pelebaran, galian drainase sekitar 100 meter dan pelebaran deker yang baru di gali pada akhir Desember 2019. Belum ada pasangan drainase maupun pasangan deker. Apalagi pekerjaan agregat dan hotmix, sama sekali belum dikerjakan.

Gambar, material yang belum diangkut. Lokasi, Detusoko.

Di Detusoko, tepatnya di sekitar areal persawahan, material galian yang belum diangkut. Material galian tersebut menutup drainase menuju sawah. Beberapa warga Detusoko yang ditemui dilokasi proyek mengeluhkan drainase yang tersumbat dan jalan yang licin akibat material gusuran berupa tanah yang belum diangkut sejak Bulan Desember 2019. Menurut warga, penggusuran di lokasi tersebut baru dilakukan pada akhir Desember 2019.

Seperti disaksikan tim investigasi media ini, belum ada pekerjaan galian sekitar 35 cm untuk timbunan agregat di sepanjang ruas jalan tersebut. Pelebaran masih berupa tanah. Dengan kondisi demikian, sudah pasti pekerjaan pondasi aspal AC-DC dan lapisan aspal penutup AC-DC belum dapat dilakukan.

Direktur PT. AGG, Rekta Mandrawa yang berusaha dihubungi media ini melalui telepon selularnya pada Selasa (14/1/20) pagi tadi, tidak menjawab panggilan. Padahal malam sebelumnya, Rekta mengatakan, siap memberikan klarifikasi terkait proyek APBN. “Saya lebih fokus di proyek APBN. Kalau tentang proyek APBN, saya akan klarifikasi,” tandas saat dikonfirmasi terkait proyek jalan APBD NTT, ruas Bealaing-Mukun-Mbazang Section 2 senilai Rp 14,1 Milyar.

Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, Mochtar Napitupulu melalui Kasatker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV Provinsi NTT, Herman Rohi yang dikonfirmasi media ini tadi malam menjelaskan, Nilai Proyek Jalan ruas Gako-Aegela sekitar Rp 18 Milyar untuk pekerjaan peningkatan jalan sepanjang 3,9 km. Anggaran berasal dari dana APBNP tahun 2019.

Menurut Rohi, waktu pelaksanaan proyek sesuai kontrak selama 35 hari kerja hingga 31 Desember 2019.  “Kita kontrak pada Bulan Nopember 2019. Progres fisik hingga 31 Desember 2019 sekitar 33 persen,” ujarnya.

Karena PT AGG tidak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu kontrak, lanjutnya, maka pihaknya memberikan tambahan waktu/kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan. “Sesuai Peraturan Menteri Keuangan PMK 243 tahun 2015, kami memberikan kesempatan selama 90 hari kerja,” kata Rohi.

Mengenai realisasi keuangan ruas Gako-Aegela, Rohi mengatakan, “Sama dengan realisasi fisik ditambah uang muka proyek,” ujarnya.

Sedangkan item pekerjaan ruas Gako-Aegela, Rohi menjelaskan, secara umum adalah pelebaran badan jalan. “Menggunakan Agregat A. Campuran pasir, batu pecah 0,5 mm, 10 mm, 20 mm sesuai prosentasi toleransi 90/95. Fraksi kasarnya 95, fraksi halusnya 90,” paparnya.

Saat ditanya, apakah campuran batu dalam agregat A boleh menggunakan kerikil kali/bulat, Rohi mengatakan, “Biasanya menggunakan batu pecah, bukan batu kali. “Komposisi halus dan kasarnya harus sesuai fraksi masing-masing.

Untuk item pekerjaan hotmix, kata Rohi, menggunakan lapisan pondasi berupa aspal AC-DC dan lapisan penutup permukaan juga menggunakan aspal AC-DC.

Sedangkan untuk Proyek Jalan Nasional ruas Ende-Detusoko, menurut Rohi sekitar Rp 15,7 Milyar. “Waktu pelaksanaannya sama dengan ruas Gako-Aegela, yakni 35 hari. Kami tandatangan kontrak pada tanggal 27 Nopember 2019. Sumber dana juga dari APBNP 2019,” jelasnya.

Item pekerjaannya, lanjut Rohi, sama persis dengan item pekerjaan ruas Gako Aegela. “Galian pelebaran, saluran drainase, bahu jalan, agregat A dan lapisan pondasi aspal ACDC dan lapis penutup permukaan juga aspal AC-DC,” paparnya.

Rohi mengakui kontraktor pelaksana proyek tersebut ada PT AGG. “PT Agogo yang menang 4 paket jalan nasional di Flores jadi dia kontraktor pelaksananya. Namun kita tetap awasi pekerjaannya agar kualitasnya memenuhi persyaratan,” tandasnya. (cn/ft/an/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top