Home / Berita utama / Geotextail, Pekerjaan Tersulit Break Water Lasiana
Geotextail, Pekerjaan Tersulit Break Water Lasiana

Geotextail, Pekerjaan Tersulit Break Water Lasiana

Kupang, fajartimor.com-Pekerjaan Geotextail, Break Water Lasiana,  yang dikerjakan PT. Mina Fajar Abadi, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

Proyek Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Satuan Kerja PJSA SDA Nusa Tenggara II Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan jenis pekerjaan Pembangunan Pengamanan Pantai Lasiana (Break Water) tersebut dikerjakan dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi, jelas Pejabat Pembuat Komitmen Lembaga setempat, Pahlawan Perang, ST.MT, kepada fajartimor belum lama ini.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan aksi lanjutan dari penanganan pasca bencana di Pulau Timor khsususnya di Kota Kupang.

“Pantai Lasiana juga masuk dalam lanjutan kegiatan penanggulangan pasca bencana atau kawasan penanggulangan pasca bencana yang ada dalam Detail Engineering Desaign ,”, ucap Pahlawan.

Sebelumnya kata Pahlawan, terjadi bencana air pasang yang meluluhlantakan sebagian besar objek vital pariwisata dan sejumlah area perumahan warga.

“Tahun 2015, terjadi bencana gelombang air laut yang naik hingga ke daratan dan merusak sebagian besar objek vital pariwisata dan perumahan warga. Oleh karena itu sebagai tindakan pencegahannya, tahun ini ( tahun 2016), disediakan anggaran untuk kegiatan pembangunan Pengamanan Pantai Lasiana atau Break Water. Pekerjaannya kini sudah berjalan. Sekalipun ada begitu banyak kendala di Lokasi Pekerjaan, dengan pengawasan yang melekat, kita berharap pekerjaan tersebut bisa selesai tepat waktu”, jelas Pahlawan.

Gambar 1, rumitnya pemasangan kubus beton pada kedalaman 3 sampai 4 meter (foto/dok.boni lerek)

Gambar 1, rumitnya pemasangan kubus beton pada kedalaman 3 sampai 4 meter (foto/dok.boni lerek)

Ditanya soal kendala pekerjaan, Pak Wan yang akrab disapa tersebut mengatakan bahwa waktu efektif pekerjaan di Laut hanya berlaku sepanjang empat jam.

“Waktu kerja efektif di Laut itu hanya empat jam. Itupun tergantung cuaca. Kalau terjadi anomali cuaca maka waktu kerja yang empat jam tersebut bisa berubah menjadi dua jam atau bahkan tidak sama sekali. Lainnya, yang unggul di laut adalah bisa dikerjakan di malam hari”, aku Pahlawan.

Khusus untuk pekerjaan Break Water Lasiana ucap Pahlawan, ada tingkat kesulitan yang secara teknis harus bisa dipecahkan pihak Pelaksana Kegiatan.

“DED pekerjaan Break Water Lasiana, yaitu 100 meter dari bibir pantai menuju ke kedalaman air laut. Karena bibir pantainya yang tidak rata, maka ada perbedaan panjang antara sisih kiri dan sisih kanan. Kkirinya (bagian Barat) 100 meter, sedangkan kanan (bagian Timur 80 meter). Ada pekerjaan jalan dari dua sisih tersebut menuju ke area pekerjaan. Fungsinya untuk memudahkan pergerakan orang dan alat termasuk pengangkatan Kubus Beton. Dan hal yang tersulit dari pekerjaan Break Water pada kedalaman sekian meter yang tidak rata tersebut adalah Peletakan dan penempatan Kubus Beton. Pekerjaan ini pun harus membutuhkan ketelitian yang sungguh dan cermat. Pekerjaan ini namanya pekerjaan Geotextail. Jika tidak diletakkan dalam kondisi yang tidak rata maka akan mempengaruhi kekuatan dan kerapian yang sebenarnya menjadi faktor utamanya. Selain itu, Pekerjaan Geotextail juga akan ikut berpengaruh pada kekuatan menahan benturan dan hempasan gelombang besar di saat cuaca tidak bersahabat. Jadi Kalau ada yang sanksi, silahkan turun dan pantau ke lokasi lalu beri penilaian soal seperti apa tekniknya jika dilakukan pada kedalaman air laut, yang orang dewasa saja hilang atau tenggelam”, terang Pahlawan.

Gambar 2, pekerjaan jalan dari bibir pantai Lasiana (sisih Timur) menuju ke Pekerjaan Utama yang nantinya akan dibongkar kembali. (foto/dok.boni lerek)

Gambar 2, pekerjaan jalan dari bibir pantai Lasiana (sisih Timur) menuju ke Pekerjaan Utama yang nantinya akan dibongkar kembali. (foto/dok.boni lerek)

Tingkat kesulitan pekerjaan di laut atau di dalam air kata Pahlawan sangatlah berbeda dengan tingkat kesulitan pekerjaan di darat.

“Ada juga pekerjaan sulit lainnya yaitu Breaker. Pihak Pelaksana yang dipercaya, tidak saja menyiapkan alat dan material tapi juga harus memiliki orang orang teknis yang siap menjalankan tanggungjawab kerja tersebut tidak hanya tuntas tapi juga berkualitas. Hemat saya, PT. Mina Fajar Abadi dapat membuktikan harapan tersebut”, beber Pahlawan.

Keinginan masyarakat dan warga di sepanjang bibir pantai agar kegitan tersebut terus berkelanjutan singgung Pahlawan, sudah menjadi masukan berarti untuk pihak Balai Sungai Nusa Tenggara II, khususnya satuan kerja PJSA SDA Nusa Tenggara II Propinsi NTT.

“Ada banyak sekali masukan warga, bahwa dengan dibangunnya Break Water Lasiana justru berdampak pada kenyamanan usaha ekonomi di area wisata tersebut, juga adanya jaminan keamanan bermukim di lokasi pantai. Keinginan untuk adanya keberlanjutan kegiatan Pengamanan Pantai sudah menjadi catatan kami, dan tentunya hal tersebut akan kami tindaklanjuti. Itu artinya semua kawasan pantai yang sudah terekam dalam Detail Engineering Design akan dikerjakan secara berkelanjutan, tentunya dengan melihat kesiapan dananya”, urai Pahlawan.

gambar 3, Pekerjaan jalan dari kiri (bagian Barat) menuju ke Lokasi Pekerjaan Utama, yang nanti dibongkar kembali.(foto/dok.boni lerek)

gambar 3, Pekerjaan jalan dari sisih Barat menuju ke Lokasi Pekerjaan Utama, yang nanti dibongkar kembali.(foto/dok.boni lerek)

Data fajartimor menyebutkan, Kegiatan tersebut adalah kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Satker Pelaksana Jaringan Sumber Air, SDA Nusa Tenggara II Provinsi NTT, Kegiatan Sungai dan Pantai I.

Nomen Klatur Kegiatannya ada pada Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, di Satuan Kerja PJSA SDA Nusa Tenggara II Provinsi NTT, dengan jenis Kegiatan Sungai dan Pantai I. Jenis Pekerjaannya Pembangunan Pengamanan Pantai Lasiana (Penanganan Pasca Bencana di Pulau Timor), 0, 5 Km, yang berlokasi di wilayah administratip Kota Kupang, denga nilai Kontrak 20.758.000.000,00 (Dua Puluh Milyar Tujuh Ratus Lima Puluh Delapan Juta Rupiah). Yang bersumber dari Anggaran Murni APBN, tahun angggaran 2016.

Kegiatan Pekerjaan tersebut dikerjakan oleh Kontraktor Pelaksana, PT. Mina Fajar Abadi, dengan waktu pelaksanaan 210 (dua ratus sepuluh) Hari Kalender.  Volume pekerjaan Break Water: 500 meter. Sementara Konsultan Supervisinya adalah PT. Tata Bumi. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top