Home / Berita utama / Gor Oepoi Terlantar; Diduga Habiskan Rp 6 Miliar, dari sebesar Rp 15 Miliar
Gor Oepoi Terlantar; Diduga Habiskan Rp 6 Miliar, dari sebesar Rp 15 Miliar

Gor Oepoi Terlantar; Diduga Habiskan Rp 6 Miliar, dari sebesar Rp 15 Miliar

Kupang, fajartimor.com . Pekerjaan Gelanggang Olah Raga Oepoi Kupang Tahun Anggaran 2011 yang dikerjakan PT. Waskita Karya dari alokasi sebesar Rp 15 miliar, dibiarkan terlantar begitu saja.

Sebesar Rp 6 miliar diduga sebagai angka yang telah dipatok oleh Pengguna Anggaran (PPK) dan pihak ketiga (PT.Waskita Karya) untuk penyelesaian pekerjaan dasar dan sejumlah pekerjaan tambahan, kata sumber terpercaya fajartimor di setda provinsi NTT belum lama ini.

Menurutnya, Biro Umum sebagai Pengguna Anggaran seharusnya tidak kemudian membiarkan pekerjaan Gor tersebut tak terurus penyelesaiannya hingga saat ini.

“Biro Umum harus bertanggung jawab. Cek PPK-nya siapa? Lalu tanya, kenapa pekerjaan tersebut tidak kunjung tuntas sampai hari ini. Ada apa sebenarnya dengan pekerjaan tersebut”, tudingnya.

Dokumen pekerjaan tersebut lanjutnya, apakah menganut kontrak Harga Satuan ( unit price) atau Lump Sum?

“Harus juga di cek, apakah kontrak pekerjaan Gor tersebut adalah Unit Price (harga satuan) atau Lump Sum? Atau jangan jangan pekerjaan tersebut hanyalah pekerjaan asal asalan yang tujuannya hanya untuk menghabiskan uang negara!”, sindirnya.

Dari yang diketahuinya, pekerjaan Gelanggang Olah Raga (GOR) Oepoi Kupang yang kini ditelantarkan Pengguna Anggaran, PPK dan PT. Waskita Karya, diduga menghabiskan nilai anggaran sebesar Rp 6 miliar dari Alokasi sebesar Rp 15 miliar.

“Kalau kondisi fisik pekerjaan yang ditinggalkan seperti sekarang ini menelan anggaran sebesar Rp 6 miliar, hemat saya, ini adalah sesuatu yang mustahil”, kesalnya.

Data fajartimor.com, Kontrak lump sum itu cocok untuk pekerjaan gedung, Namun ada juga kemungkinan bangunan atas dibuat lump sum dan struktur bawah unit price.

Bahwa Kontrak lump sum itu hanya boleh ada pekerjaan kurang dan tidak boleh ada pekerjaan tambah. Semangat Kontrak lump sum itu segala risiko pekerjaan ditanggung kontraktor. Walaupun ada perubahan design oleh owner yang menyebabkan penambahan biaya.

Pada lelang proyek pemerintah dengan kontrak lump sum, panitia memberikan BQ kosong yang harus sama volumenya oleh Penawar.

Di satu sisi Panitia juga melakukan koreksi aritmatik, bahkan jika lelang dilakukan dengan cara online (e-proc). Pada pelaksanaan proyek pemerintah, audit pemeriksa dilakukan dengan mencocokkan BQ dengan pelaksanaan di lapangan. Sementara Kontrak lump sum tidak ada eskalasi harga pada sebagian proyek pemerintah.

Walaupun kontrak adalah multi years. Selain itu ada juga proyek pemerintah yang dalam pelaksanaan berubah jenis kontraknya yang semula lump sum menjadi unit price karena beberapa item pekerjaan volume lebih banyak dari pelaksanaan. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa pada proyek pemerintah, umumnya pekerjaan tambah-kurang dihitung secara unit price walaupun kontraknya lump sum. Hal yang penting juga adalah nilai pekerjaan tambah suatu item pekerjaan tidak boleh lebih besar dari 10% Nilai Kontrak dengan alasan kontrak lump sum. Jadi max 10% walaupun volume terhitung menunjukkan nilai pekerjaan tambah lebih dari 10%.

Ketika ada pekerjaan tambah dengan item pekerjaan yang sama (contoh bekisting) namun bekisting pada pekerjaan tambah harus dikerjakan dengan metode yang berbeda, maka harganya harus sama dengan harga pada kontrak awal.

Lain lagi, jika kontraktor dalam pelaksanaannya merubah metode pelaksanaan agar lebih efisien maka harga direview. Contoh perubahan penggunaan alat yang semula menggunakan Tower Crane menjadi Mobile Crane.

Setelah pekerjaan selesai, dilakukan perhitungan final mengenai volume riel pekerjaan, walaupun kontrak adalah lump sum. (Proyek pemerintah dan swasta).

Dan jika ada perbedaan gambar antara gambar denah dan detil maka dipakai yang biayanya lebih tinggi. Begitu pula jika terjadi perbedaan antara gambar dan spesifikasi, maka yang digunakan adalah yang harganya lebih tinggi. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top