Home / Berita utama / Gunakan Kerikil Kali, PT. Agogo Bakal Rugikan Negara
Gunakan Kerikil Kali, PT. Agogo Bakal Rugikan Negara

Gunakan Kerikil Kali, PT. Agogo Bakal Rugikan Negara

Kupang, fajartimor.com – PT. Agogo Golden Group (AGG) bakal merugikan keuangan negara jika tidak mengganti/tetap menggunakan kerikil kali/bulat bercampur pasir berlumpur dan batuan kali/bulat (sebesar telapak tangan orang dewasa, red) sebagai agregat dalam Proyek Peningkatan Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela senilai Rp 18 Milyar.

Demikian dikatakan salah satu konsultan pengawas jalan di Kupang yang enggan disebutkan namanya, terkait penggunaan material Urpil (urukan pilihan, red) sebagai agregat untuk pekerjaan pondasi Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela senilai Rp 18 Milyar.

Kerikil Kali Di Jalan Nasional Trans Flores, Ruas Gako-Aegela (Foto : Stef Bata, 28/1/20)

Konsultan yang sudah banyak ‘makan garam’ ini dimintai komentarnya terkait penggunaan kerikil kali/bulat bercampur pasir berlumpur dan batuan kali/bulat yang digunakan PT. AGG sebagai material untuk pekerjaan pondasi jalan pada proyek peningkatan Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako Aegela senilai Rp 18 Milyar.

“Kualitas material yang digunakan sebagai agregat berkaitan langsung dengan harga satuan. Semakin rendah kualitas material yang digunakan, maka semakin rendah harga satuannya. Begitu pula sebaliknya, semakin tinggi kualitas material yang digunakan maka semakin tinggi harga satuannya. Jika PT. AGOGO sebagai kontraktor pelaksana menggunakan material sebagai agregat di bawah kualitas/spesifikasi teknis/Spek yang diminta dalam kontrak maka sudah pasti akan terjadi selisih harga yang akan merugikan keuangan negara,” jelasnya.

Menurutnya, dalam kontrak kerja telah ditetapkan jenis material/agregat yang digunakan dalam pekerjaan. “Berdasarkan jenis agregat yang ditetapkan dalam kontrak, pemilik proyek telah menghitung harga satuannya dalam HPS (Harga Perkiraan Sendiri, red). Sehingga material yang telah ditetapkan dalam kontrak tidak boleh diganti dengan material yang kualitasnya lebih rendah,” tandasnya.

Ia menjelaskan, harga satuan material yang digunakan PT. AGG sebagai agregat, dikategorikan sebagai Urpil (urukan pilihan, red). Harga satuannya hanya sekitar Rp 100 ribu/m3. Sedangkan agregat (batu pecah hasil olahan stone crusher, red) harganya sekitar Rp 700 ribu/m3.

“Jika selisihnya kita kalikan dengan jumlah kubikasi agregat dalam kontrak maka kita bisa taksasi kerugian negara yang bakal ditimbulkan bila kerikil kali tersebut tidak dibongkar dan diganti dengan agregat sesuai spek dalam kontrak kerja,” ungkapnya.

Selain merugikan negara, lanjutnya, rendahnya kualitas material/agregat yang digunakan akan berdampak langsung pada rendahnya kualitas jalan.  “Jangan heran kalau setelah di hotmix sehari (di ruas Jalan Gako-Aegela, red), hotmixnya langsung amblas, patah, dan hancur.  Itu karena pondasi jalan yang berasal dari kerikil kali tersebut tak mampu menahan beban kendaraan yang lewat,” paparnya.

Dengan material seperti itu (kerikil kali/bulat bercampur pasir berlumpur dan batuan kali/bulat tanpa campuran batu pecah hasil olahan stone crusher sama sekali, red), jelasnya, pondasi jalan bergerak ketika dilewati kendaraan.  “Mau digilas atau dipadatkan seperti apapun, pondasi jalan akan bergerak ketika dilewati kendaraan karena materialnya tidak saling mengikat ketika digilas. Jadi pondasi jalan akan amblas dan hotmix-nya juga akan ikut amblas, patah dan hancur,” tegasnya.

Berdasarkan pantauan Tim Investigasi media ini pekan lalu, PT. AGG tetap menggunakan material berupa kerikil kali/bulat (dari Kali Nangapanda, red) tanpa campuran batu pecah tersebut sebagai agregat untuk pekerjaan pondasi Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela senilai Rp 18 Milyar.  Tampak ada tumpukan material yang baru di beberapa titik ruas jalan tersebut.

Seperti disaksikan Tim media ini, material yang digunakan sebagai agregat tersebut masih sama dengan material yang digunakan sebelumnya.  Kerikil kali/bulat bercampur pasir berlumpur tersebut tampak tak ada campuran batu pecah sama sekali.  Bahkan yang terlihat sangat jelas adalah batuan kali/bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Tidak terlihat adanya tanda-tanda penggantian kerikil kali Nangapanda tersebut dengan agregat/batu pecah seperti yang dijanjikan PPK, Donatus Nelo sebagaimana diberitakan beberapa waktu lalu. Padahal, pihak Balai Jalan Nasional sebagai pemilik proyek telah memerintahkan kontraktor untuk mengganti kerikil kali bercampur pasir, lumpur dan batuan kali/bulat tersebut dengan agregat sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak kerja. Tak tampak kemajuan progres fisik yang berarti di ruas jalan tersebut.

Kepala Satuan Kerja (Kasatker) IV Balai Jalan Nasional, Herman Rohi yang dikonfirmasi Tim Investigasi media ini terkait belum digantinya material Urpil yang digunakan sebagai agregat B oleh PT. AGG di Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela mengatakan pihaknya telah beberapa meminta kontraktor tersebut untuk mengganti  kerikil kali tersebut dengan agregat sebagaimana tertera dalam kontrak kerja. “Dalam beberapa kali rapat evaluasi, kami sudah minta PT. Agogo untuk ganti material yang digunakan sebagai agregat,” ujar Rohi.

Selaku pemilik proyek, kata Herman Rohi, pihaknya telah memberikan peringatan tertulis kepada kontraktor PT. Agogo Golden Group. “Dalam rapat evaluasi, Saya sudah minta PPK untuk memberikan teguran tertulis kepada kontraktor,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela, Donatus Nelo berjanji akan memerintahkan PT. Agogo Golden Group untuk mengganti kerikil kali Nangapanda tersebut dengan agregat sesuai spesifikasi teknis dalam kontrak kerja. Setelah diwawancarai, Nelo mengirim pesan WhatsApp kepada media ini. “Saya akan perintahkan kontraktor untuk bongkar dan ganti semua agregat,” tulis Nelo namun sekitar 10 menit kemudian, pesan itu dihapus kembali olehnya.

Akibat penggunaan kerikil kali yang tak sesuai Spek tersebut, hotmix pada Jalan Nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela amblas, retak, patah dan hancur sehari setelah dikerjakan (sekitar 500 meter, red) di 4 titik di Dewa Wolowea, Kecatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. (ft/cn/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top