Kupang, fajartimor.com — Ancaman HIV/AIDS masih membayangi Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti bayang-bayang senja yang perlahan menelan harapan generasi muda. Penyakit mematikan ini tidak hanya menyerang tubuh, tetapi juga merenggut masa depan, produktivitas, dan daya hidup sosial masyarakat, terutama kaum muda yang seharusnya berada di garis depan pembangunan daerah.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengingatkan seluruh warga untuk meningkatkan disiplin diri dan kesadaran kolektif dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS. Ia menegaskan bahwa persoalan HIV/AIDS bukan semata isu kesehatan, melainkan persoalan kemanusiaan, moral sosial, dan tanggung jawab bersama.
“Jika disiplin diri runtuh, maka celah penularan akan semakin lebar. HIV/AIDS tidak memilih korban, tetapi perilaku manusia yang membuka pintu bagi penyakit ini,” terang Wagub Johni Asadoma dihadapan sejumlah awak media Jum’at (02/01/2026) bertempat di Aula Rumah Jabatan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur.
Menurut Wagub Johni Asadoma, Data kasus HIV/AIDS di NTT menunjukkan tren yang masih mengkhawatirkan, dengan peningkatan signifikan pada kelompok usia produktif, termasuk generasi muda.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, menurunkan angka harapan hidup, serta menambah beban keluarga dan daerah.
Masih menurut Wagub Johni Asadoma, HIV/AIDS, seperti hantu yang tak kasatmata, menyusup melalui perilaku berisiko, minimnya pengetahuan, serta rendahnya kesadaran akan kesehatan reproduksi. Generasi muda kata Wagub Johni, yang terjebak dalam pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika, dan abai terhadap nilai-nilai hidup sehat menjadi kelompok paling rentan.
Wagub NTT yang sudah makan garam dengan dunia sosial dan kemasyarakatan ini menekankan pentingnya peran keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan komunitas untuk membangun benteng kesadaran sejak dini.
“Edukasi yang benar, terbuka, dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan,” ujar Wagub Johni.
Dikatakan, Diam bukan solusi. Stigma hanya memperparah keadaan. “Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk peduli, mengedukasi, dan melindungi masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Wagub Johni Asadoma, terus mendorong penguatan program pencegahan, deteksi dini, dan pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Namun, upaya tersebut tidak akan efektif tanpa keterlibatan aktif masyarakat.
Di tengah tantangan pembangunan dan keterbatasan ekonomi, HIV/AIDS menjadi luka senyap yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan. Jika tidak dihadapi dengan kesadaran dan disiplin bersama, maka generasi muda NTT berisiko kehilangan masa depan sebelum sempat bermimpi.
Hantu itu nyata. Namun, dengan pengetahuan, disiplin diri, dan kepedulian kolektif, NTT masih memiliki harapan untuk melindungi generasi mudanya dari ancaman HIV/AIDS. (Ft/Boni)












