Home / Berita utama / ‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’
‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

(Bagian 26)

Kupang, fajartimor.comDiduga Ada sejumlah pelanggaran aturan di kasus Perkosaan atau Persetubuhan yang dituduhkan kepada Terdakwa Christian Fanda. Dan karena itu terhadap dugaan pelanggaran tersebut bisa dikategorikan sebagai Kejahatan Undang undang.

Tuduhan persetubuhan dan penganiayaan yang dialamatkan kepada Terdakwa Christian Fanda adalah tuduhan yang maha berat karena terkait pasal 285 KUHP. Oleh karenanya, fase dan tahapan penyelidikan dan penyidikannya harus berpegang pada prinsip Undang undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Perkapri nomor 14 tahun 2012 tentang Menejemen Tindak Pidana Penyidikan demi memenuhi tuntutan KUHP dan KUHAP soal pembuktian kebenaran materil.

Namun fakta BAP dan fakta persidangan rupanya terkuak, kalau tuduhan persetubuhan dan penganiayaan yang dialamatkan kepada Terdakwa Christian Fanda jelas terpapar ada dua lokasi (TKP).

Lokasi atau TKP Wilma Home Stay yang dituduhkan justru terbantahkan dengan sendirinya, karena Saksi Jonius Jacob Zakarias, Saksi Melihat, mendengar dan langsung merasakan (Pelaku Persetubuhan dengan Agnes Wila Here bersama Saksi Korban Mirawati yang bersetubuh dengan teman kencannya yang dikenal sebagai Aba atau Ama), tegas mengakui jika tuduhan kepada Terdakwa Christian Fanda adalah tidak benar dan tidak patut.

Saksi Verbalisan, Yustina Tince, dihadirkan jaksa di Perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda (foto istimewa)

Aba atau Ama yang dikenalnya sebagai sopir Tangky kini hilang jejak dan tidak bisa dihubunginya. Begitulah pengakuan Jonius Jacob Zakarias Terhukum yang dihadirkan jaksa Umarul Faruq sebagai saksi Mahkota di fakta persidangan sebelumnya.

Hal lainnya yang benar dan patut adalah penganiayaan saksi korban Mirawati dilakukan istri Terdakwa Christian Fanda, tepatnya di hari Minggu, tanggal 26 Maret 2017.

Anehnya, di tanggal 31 Maret 2017, laporan polisi dilakukan dan kemudian diikuti dengan pengambilan Visum et Repertum.

Kuat dugaan Visum et Repertum penganiayaan dibuat sekaligus dengan visum persetubuhan.

Akan tetapi yang salah diperhitungkan dalam perkara A Quo tersebut, tuduhan persetubuhan yang diduga didesign sebelumnya justru diundur ke tanggal 24 Maret 2017 persisnya di rumah Terdakwa Christian Fanda tepat pada hari Jum’at, jam 13.00 Wita, bertepatan dengan aktifitas keluarga Fanda menolak alat berat pihak ketiga yang ingin menyerobot area pekuburan keluarga. Dan uniknya ada Saksi Mahkota Jonius Jacob Zakarias tatkala terjadi penolakan sekaligus tuduhan persetubuhan. Mirissssssss.

Saksi Korban Mira Lainu bersama bibinya saksi Fatima, terlihat asik bermain lempar batu sembunyi tangan, sambil tertawa ngakak tanpa ada yang mengganggu, tapi saat hadir di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang, dikawal sejumlah orang yang katanya dari Mabes dan LPSK (foto/dok.Boni)

Jika diurut urut (baik kejadian penganiayaan yang dilakukan istri Terdakwa dan tuduhan persetubuhan kepada Terdakwa), ada jedah waktu yang cukup lama.

Bila benar ada visum et repertum persetubuhan dan penganiayaan maka kerahasiaan dokter ahli kini menjadi dilema besar.

Dia (dokter ahli) harus bisa mempertanggungjawabkan kejadian penganiayaan yang berlokasi di pinggir laut (dekat perahu nelayan) persisnya pada tanggal 26 Maret 2017, dan tuduhan persetubuhan yang berlakosi di rumah Terdakwa seperti yang dituduhkan tepat pada tanggal 24 Maret 2017, jam 13.00 Wita.

Mampukah dokter ahli tersebut mempertanggungjawabkan keahliannya di fakta persidangan? Ataukah dokter ahli tersebut sudah harus siap dengan sejumlah hukuman kode etik profesi dan hukuman masyarakat?

Hal yang tidak bisa dipungkiri, di fakta persidangan, Yustina Tince, Saksi Verbalisan justru mengakui kalau olah tempat kejadian perkara dan penyitaan barang bukti tidak dilakukan karena alasan kasusnya sudah lama.

Pengakuan tanpa sadar tersebut menjadi penting karena perintah Undang undang Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 2 tahun 2002 jelas tidak sedikitpun menyinggung dan memuat kalimat ‘Kasus sudah lama’ dan mendapat perlakuan khusus.

Tahapan pembuktian dari olah tempat kejadian perkara, penyitaan barang bukti, konfrontasi, interview yang seharusnya diikuti dengan perangkat formula berita acara – berita acara sesuai perintah Peraturan Kapolri nomor 14 tahun 2012 agar nantinya dapat dibuktikan kebenaran materilnya di Pengadilan khusus tuduhan persetubuhan dan penganiayaan yang dialamatkan kepada Terdakwa Christian Fanda dilangkahi begitu saja tanpa beban dan sedikitpun tidak memuat kalimat khusus ‘kasusnya sudah lama’ karena yang ada dan benar secara undang undang itu adalah adanya Novum atau bukti baru.

Orang yang mengaku dari Mabes dan LPSK, terlihat ketat mengawal pergerakan Saksi Korban Mira Lainu (foto/dok.Boni)

Novum yang didapat sesuai perintah undang undang yaitu adanya observasi, pengintaian, penyamaran, wawancara, pembuntutan, pelacakan dan penelitian serta analisis.

Dari fakta pengakuan saksi mendengar dan saksi fakta termasuk saksi Mahkota jelas terungkap, ada sejumlah permainan kata di surat dakwaan jaksa yang sebenarnya tidak bisa dibuktikan di fakta persidangan.

Fakta bahwa Terdakwa Christian Fanda ada di Wilma Home Stay dan bersetubuh dengan Mirawati secara paksa, terbantahkan dengan pengakuan saksi Joinus Jacob Zakarias (Opa Oni Zakarias) atau saksi mendengar, melihat dan merasakan langsung.

Fakta bahwa saksi korban Mirawati dianiaya istri Terdakwa Christian Fanda dan sudah ada putusan pengadilan dan kini memasuki tingkat kasasi MA adalah kebenaranya.

Fakta bahwa Terdakwa Christian Fanda dituduh bersetubuh secara paksa dengan Mirawati adalah fakta di persidangan namun diduga penuh dengan kepalsuan karena sejumlah perintah aturan dilangkahi baik Undang undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang khusus berbicara tentang penanganan kasus pidana demi mendapatkan kebenaran Materil juga Peraturan Kapolri nomor 14 tahun 2012 tentang Menejen Tindak Pidana Penyidikan yang didalamnya memuat tentang BAB, Pasal, Ayat, Huruf, Butir, Diktum dan Klausal penanganan perkara pidana demi menemukan dan mendapatkan kebenaran materil terhadap sangkaan pidana kepada seorang Christian Fanda.

Dan atas seluruh dugaan pelanggaran Undang undang dan aturan tersebut asumsi yang berkembang yakni tidak ada persetubuhan dan penganiayaan yang dilakukan Terdakwa Christian Fanda terhadap saksi korban Mirawati.

Sementara soal tidak dilakukannya olah TKP dan Penyitaan Barang Bukti dan sejumlah ikutannya (karena memang diduga kuat tidak ada kejadian seperti yang dituduhkan) adalah pelanggaran dan dapat dikategorikan sebagai Kejahatan Undang undang.

Komisi Yudisial, Komisi Kehormatan Jaksa, Kompolnas dan Lembaga kompeten lainnya jangan diam, tidur dan berpangku tangan. Bangun dan berbicaralah secara lantang demi keadilan rakyat negeri ini, sesuai cita cita luhur pendiri bangsa, Bung Karno. Bersambung…(ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top