Home / Berita utama / ‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’
‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

(Bagian 29)

Kupang, fajartimor.com – Jaksa Umarul Faruq (JPU) diduga Enggan hadirkan dr. Ervina Aryani (Saksi Verbalisan) penerbit visum et repertum (visum penganiayaan dan visum alat kelamin) Mirawati.

Sudah dua kali sidang ditunda karena JPU Umarul Faruq tidak bisa hadirkan dr. Ervina Aryani, dokter IGD Rumah Sakit Bhayangkara Kupang TK.III Drs.Titus Uly di fakta persidangan. Ini menandakan bahwa hasil visum et repertum buatan dokter tersebut diduga bodong. Keluarga juga menduga visum yang baru dibuat pada tanggal 31 Maret 2017, tujuh hari setelah tanggal kejadian seperti yang dituduhkan (24 Maret 2017) adalah visum et repertum milik orang lain, jelas keluarga inti Terdakwa christian Fanda usai pembatalan sidang di Kantor Pengadilan setempat, Rabu (30/05/2017).

Menurut keluarga, Alasan JPU Umarul Faruq soal tidak perlu dihadirkan saksi lagi dari pihaknya sebenarnya mengindikasikan benar bahwa pembuktian tuduhannya di fakta persidangan tidak purna.

“Kalau benar orang tua kami Tersangka/Terdakwa Christian Fanda benar melakukan persetubuhan seperti yang dituduhkan, kenapa JPU Umarul Faruq terlihat enggan membuktikannya di fakta persidangan? Kenapa dokter Ervina Aryani seolah sulit dihadirkan JPU? Atau jangan jangan dia malu dengan pengakuan saksi fakta dan saksi mahkota yang jelas mempermalukannya di fakta persidangan? Keluarga tidak sebodok bodok amat seperti yang dibayangkan”, sindir mereka.

JPU Umarul Faruq kata keluarga, jangan bersembunyi dibalik kemenangan penyidik ketika digelarnya perkara pra peradilan yang dilakukan Tersangka/Terdakwa Christian Fanda dan Lawyer.

“Pra Peradilan dilakukan hanya sebatas persoalan pemberkasan dan penerapan undang undang. Dan sedikitpun tidak menyinggung pokok perkaranya. Kita juga tahu kalau kemenangan itu penuh dengan intrik intrik. Tapi kami pun yakin di pokok perkara yang kini lagi disidangkan, Majelis Hakim Yang Mulia tentu akan berlaku adil. Artinya tiga orang Majelis Hakim Yang Mulia tersebut, Allah, Alam dan Arwah Leluhur pilih untuk berperkara secara adil dan benar”, yakin mereka.

Bukti Laporan Polisi Agustina W.J Wila Hera atas tuduhan Penjualan Anak Dibawah Umur terhadap Mirawati Lainu Saksi korban Dalam Perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda *foto.dok Boni*

Sementara Amos Alexander Lafu, Pengacara Tersangka/Terdakwa Christian Fanda yang ditemui secara terpisah di Pengadilan setempat mengatakan bahwa Saksi Verbalisan (dokter Ervina Aryani, penerbit visum et repertum) wajib dihadirkan di fakta persidangan oleh JPU.

“Untuk membuktikan kebenaran perkara tersebut, dokter penerbit visum et repertum wajib dihadirkan di fakta persidangan oleh JPU. Kita juga ingin tahu, seperti apa tahapan dan kelayakan visum et repertum yang diterbitkannya?”, tandas Amos.

Semenjak dipercaya menangani persoalan tersebut ucapnya, ditemukan sejumlah kejanggalan yang boleh dikatakan sebagai cacat hukum.

“Saya boleh jelaskan bahwa perkara hukum Tersangka/Terdakwa Christian Fanda semenjak awal sudah cacat hukum. Karena banyak sekali kejanggalan yang kita temukan. Kita akan terus kejar pembuktiannya dengan harapan Majelis Hakim dapat memutuskan secara adil dan benar dengan diilhami Roh Kebenaran dan Roh takut akan Tuhan”, doa Amos.

Informasi yang didapat tim investigasi fajartimor di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang TK. III, Drs. Titus Uly, Dokter Ervina Aryani diketahui sebagai dokter umum atau dokter IGD.

Saksi Korban Mira Lainu bersama bibinya saksi Fatima, terlihat asik bermain lempar batu sembunyi tangan, sambil tertawa ngakak tanpa ada yang mengganggu, tapi saat hadir di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang, dikawal sejumlah orang yang katanya dari Mabes dan LPSK (foto/dok.Boni)

Saat dicari tahu keberadaannya oleh tim investigasi fajartimor, terlihat ada seorang perawat yang memberi code kalau dokter tersebut tidak bertugas di RS. Bhayangkara.

Beruntung ada seorang dokter muda yang datang lalu sembari bertanya, dijelaskan maksud dan tujuan oleh salah seorang anggota tim dan kemudian mengarahkan tim investigasi ke unit IGD.

Di IGD Rumah Sakit setempat, dokter Ervina Aryani tercatat namanya sebagai dokter umum.

Dokter dan perawat di IGD mengaku kalau dokter Ervina Aryani baru akan bertugas pada tanggal 3 Juni 2018. Ketika diseruduk dengan pertanyaan, dokter tersebut berdomisili dimana, tidak dijawab sedikitpun oleh dokter dan perawat yang berhasil ditemui di IGD Rumah Sakit setempat. Bersambung…(ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top