Home / Berita utama / ‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’
‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

(Bagian 4)

Kupang, fajartimor.com – Miris, Jaksa Penuntut Umum Umar Faruk hadirkan saksi Ibu Kandung Mira Lainu, anak yang katanya dibawah umur hanya bermodalkan mendengar cerita cerita spot.

Kejanggalan kasus hukum Christian Fanda rupanya terus saja bergulir layaknya bola panas di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang. Tiga orang saksi yang dihadirkan Umar Faruk, Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kupang terindikasi kuat memberikan keterangan palsu alias penuh dengan rekayasa, jelas Amos Alexander Lafu Pengacara Pendamping yang hadir di fakta persidangan, Selasa (24/04/2018) menggantikan posisi Edward Alfons Theorupun, Lawyer Terdakwa Christian Fanda (dalam perkara A Quo) yang lagi melakukan koordinasi hukum di Jakarta.

Menurutnya, Kejanggalan kesaksian Ibu Kandung saksi Korban Mira Lainu dalam memberikan kesaksian di fakta persidangan hanya berdasarkan cerita cerita lepas tanpa bisa dibuktikan kesahihan atau kebenarannya.

“Saat ditanya bagaimana perkara pidana itu terjadi, siapa yang melakukan, dengan siapa saat perkara pidana itu terjadi, dimana perkara pidana itu dilakukan, waktu terjadinya kapan, mengapa terjadi rupanya sulit dijelaskan Ibu Kandung Mira Lainu anak yang katanya dibawah umur itu”, terang Amos.

Orang yang mengaku dari Mabes dan LPSK, terlihat ketat mengawal pergerakan Saksi Korban Mira Lainu (foto/dok.Boni)

Ketika diperdalam lagi katanya dengan sejumlah pertanyaan prinsip kaitannya dengan kebenaran materil atas perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda, jawaban Ibu Kandung Korban terkesan ngelaba alias raba raba.

“Pertanyaan soal apakah pernah diperiksa Penyidik Polda NTT terkait kasus yang disangkakan kepada Terdakwa Christian Fanda Klien kami, jawabannya Iya. Saat ditanya apakah ada barang bukti, yang besangkutan menjawab ada yaitu uang sejumlah Rp 150 ribu. Sementara soal barang bukti lainnya, yang bersangkutan menjawab, ada bukti celana dalam Mira Lainu. Namun ketika didesak warna celana dalamnya apa, yang bersangkutan justru tidak bisa menjelaskan secara pasti”, beber Amos.

Untuk memastikan kesaksian Ibu Kandung Mira Lainu lanjutnya bukti bukti yang disebutkan baik uang sebesar Rp 150 ribu dan celana dalam diminta untuk dihadirkan di fakta persidangan agar yang bersangkutan bisa mengingatnya.

“Jangankan Uang sebesar Rp 150 ribu, celana dalam saksi Korban Lainu saja tidak bisa dihadirkan. Kalau begini modelnya kebenaran materil apa yang mau didapatkan dari Perkara A Quo Klien Kami, Terdakwa Christian Fanda?”, kritik Amos.

Hal yang unik dari keterangan Saksi Ibu Kandung Saksi korban Mira Lainu tukasnya yaitu tidak adanya kejujuran.

“Yang bersangkutan (Ibu Kandung Saksi Korban Mira Lainu) menjelaskan jika persoalan tersebut selalu dikomunikasikan dengan keluarga suami keduanya atau kakak dari ayah tiri Mira Lainu yang diketahui berdomisili di Namosain. Tapi ketika ditanya kakak dari ayah tiri itu bernama siapa, yang bersangkutan justru tidak tahu nama yang dimaksud dan bahkan tidak menjawab sama sekali. Kalau modelnya begini kan kaco. Kita malah mencurigai ada rekayasa besar dalam kasus ini”, ulas Amos.

Besok, (Rabu, tanggal 25/04/2018), imbuhnya akan dilakukan sidang lanjutan mendengar keterangan Saksi lainnya yang akan dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum Umar Faruk.

“Keterangan Saksi lainnya pada persidangan besok, akan kita cermati secara baik demi mendapatkan persesuaian. Hemat saya, dengan keterangan Saksi Ibu Kandung Mira Lainu yang penuh kejanggalan, kita berharap Majelis Hakim yang Mulia (Nurul Huda Hakim Ketua dan dua Hakim Anggotanya yakni Ibu Theodora Usfunan dan Hakim Arik) boleh mendapat sarinya lalu akan memutuskan secara Agung, demi sebuah pelayanan yang Agung” spirit Amos.

Data fajartimor yang berhasil dikuak, Saksi Korban Mira Lainu anak yang katanya dibawah umur tersebut pernah dilaporkan Agustina W.J Wila Hera, usia 46 tahun, beragama Kristen yang beralamat di Nunbaun Sabu (NBS), RT/RW: 05/02 Kecamatan Alak Kota Kupang di SPKT Polda NTT karena dugaan penjualan anak dibawah umur (anak kandung Agustina W.J Wila Hera) bernama Angelica Prastika Wila Hera yang akrab disapa Agnes usia 13 tahun kepada Terhukum Jonius Jacob Zakarias alias Oni.

Rumor yang berkembang, Saksi korban Mira Lainu rupanya menyediakan Agnes, anak perempuan dibawah umur untuk bersetubuh dan ditawarkan kepada Jonius Jacob Zakarias alias Oni dengan harga sebesar Rp 500 ribu.

Dari sebesar Rp 500 ribu, sebesar Rp 250 ribu diperuntukkan untuk Agnes, sebesar Rp 250 ribu diperuntukkan untuk Saksi Korban Mira Lainu.

Lokasi indehoy alias persetubuhan dilaporkan didaerah Kota Kupang. Namun yang berkembang lokasinya di Penginapan Wilma Penfui Kabupaten kupang persisnya pada hari Sabtu tanggal 11 Januari 2017.

Dari sejumlah informasi yang didapat fajartimor, Satu kamar diambil, dan didalamnya ditempati Jonius Jacob Zakarias alias Oni dan Agnes serta Saksi Korban Mira Lainu dan seseorang yang diketahui berambut panjang dan dikenal sebagai Aba atau Ama.

Keterangan warga di sekitaran Namosain (tetangga dan lingkungan pergaulan) Saksi korban Mira Lainu adalah kupu kupu malam yang kelakuannya sudah sangat meresahkan. Bila ada yang tidak percaya disilahkan mengecek langsung ke lapangan. Bersambung….(ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top