Home / Berita utama / ‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’
‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

(Bagian 5)

Kupang, fajartimor.com – Perkara persetubuhan anak dibawah umur yang dituduhkan kepada Terdakwa Christian Fanda semakin menarik perhatian publik. Oknum Polisi, Jaksa Penuntut Umum dan Hakim Pengadil yang mengadili Perkara A Quo tersebut kini dalam sorotan dugaan persekongkolan.

Semenjak bergulirnya kasus tersebut, dari tulisan sepihak media online lokal yang menusuk ke area privatisasi (baca konten tulisan Moral Politik, denggan judul Pelaku Cabul MA Pensiunan PNS Undana Kupang), diikuti penyelidikan dan penyidikan oknum polisi yang kuat dugaan diluar standard operasional (tanpa menemukan dua alat bukti, termasuk locus dan tempus delikti), kemudian disambut oknum Jaksa Penuntut yang jelas jelas pada fakta persidangan (Selasa, 24/04/2018) tidak bisa memperlihatkan bukti materiil yang disebut Saksi Ibu Kandung dari Saksi Korban Mira Lainu berupa uang sebesar Rp 150 ribu dan celana dalam disertai realita membatasi tata beracara Terdakwa Christian Fanda bersama lawyer oleh hakim Ketua Nurul Huda dan dua hakim anggotanya mengisyaratkan ada design besar dan goal besar dari Perkara A Quo tersebut, jelas Melky Nona Ketua Laskar Merah Putih NTT yang juga berprofesi sebagai lawyer dan penasihat hukum kepada fajartimor di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang, Selasa (24/04/2018).

Bukti Laporan Polisi Agustina W.J Wila Hera atas tuduhan Penjualan Anak Dibawah Umur terhadap Mirawati Lainu Saksi korban Dalam Perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda *foto.dok Boni*

“Saya sangat tahu alur perkara yang dituduhkan kepada Terdakwa Christian Fanda. Dan kelihatannya para penegak hukum lagi masuk angin”, ucap Melky.

Menurutnya, kasus persetubuhan Mira Lainu anak dibawah umur yang dituduhkan kepada Terdakwa Christian Fanda syarat dugaan rekayasa.

“Buktinya ada sejumlah Berita Acara Pemeriksaan yang disembunyikan dan tidak diberikan kepada Terdakwa dan lawyer demi kepentingan pembelaan. Sementara barang bukti yang dipakai pada saat persetubuhan dan perkosaan itu dilakukan tidak mampu diperlihatkan para penyidik (Polisi dan Jaksa Penuntut Umum)”, ungkap Melky.

Lainnya kata Ketua Laskar Merah Putih yang sudah makan garam dengan urusan sosial politik dan hukum tersebut yakni Materi Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak jelas dan kabur karena tidak memenuhi pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP.

“Penjelasan detailnya yakni pada tanggal kejadian yang dimaksud Terdakwa Christian Fanda dituduh berjalan bersama dengan terhukum Jonius Jacob Zakarias, Agnes (anak perempuan dibawah umur yang kuat dugaan disediakan Saksi Korban Mira Lainu) dan kemudian ditangkap Ibu kandung Agnes adalah tidak benar, karena yang benar baik Mira Lainu Saksi Korban, Terhukum Jonius Jacob Zakarias, Agnes anak perempuan dibawah umur itu bersama seseorang yang akrab disapa Aba/Ama justru tertangkap ibu Kandung Agnes atas nama Agustina W.J Wila Hera. Nanti coba dicek and ricek dengan Ibunya Agnes”, tantang Melky.

Kesan ketidaknetralan Hakim lanjutnya akan menjadi catatan prinsip dan tentunya akan ada perlawanan dari Laskar Merah Putih.

“Kita dengar keluhan keluarga dan malah di fakta persidangan, Hakim pengadil terkesan selalu membatasi keberatan dari Terdakwa dan Lawyernya. Saya kira ini fakta kekinian, masyarakat perlu tahu dan para pemimpin ditingkat atas perlu memberikan perhatian serius demi terwujudnya rasa keadilan”, unjuk Melky.

Terkait pengawalan yang begitu ketat oleh mereka yang mengaku dari Mabes dan LPSK terhadap Saksi Korban Mira Lainu sepatutnya dicek kebenarannya.

“Polisi, Jaksa dan Hakim perlu menjelaskan pengawalan yang berlebihan dari sejumlah orang yang mengaku dari Mabes dan LPSK terhadap Saksi Korban Mira Lainu. Karena setahu saya NTT damai damai saja, atensi dan perhatian yang ditunjukan keluarga Terdakwa Christian Fanda damai damai saja. Tidak ada sesuatu yang luar biasa di sini koq”, sinis Melky. Bersambung….(ft/tm)

About Bony Lerek

Scroll To Top