Home / Berita utama / ‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’
‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

‘Kasus Hukum Christian Fanda; Sampah Daur Ulang?’

(Bagian 9)

Fajartimor.com – Tata beracara di fakta persidangan entahkah itu kasus korupsi, pidana dan perdata, terkadang berubah drastis karena baik kesaksian Saksi yang diajukan dan keterangan Terdakwa tidak bersesuaian dengan surat dakwaan.

Kelihaian Jaksa Penuntut Umum, Pengacara Terdakwa dan Majelis Hakim Yang Mulia, mendalami sebuah perkara di fakta persidangan menjadi awasan sekaligus acuan. Terkait Saksi Maria yang dihadirkan Jaksa di fakta persidangan perkara persetubuhan yang dituduhkan kepada Terdakwa Christian Fanda, mestinya didalami cermat dan cerdas baik oleh Pengacara maupun Hakim. Ini malah terkesan dibiarkan begitu saja, jelas Melky Nona, Ketua Laskar Merah Putih NTT kepada fajartimor di Pengadilan Negeri kelas 1A Kupang, Rabu (2/05/2018).

Menurut pegiat sosial yang sudah malang melintang di dunia hukum dan politik tersebut, kenyataan tidak didalaminya kesaksian Maria yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum baik oleh Pengacara Terdakwa dan Majelis Hakim mengisyaratkan ada yang tidak beres dengan perkara A quo tersebut.

Bukti Laporan Polisi Agustina W.J Wila Hera atas tuduhan Penjualan Anak Dibawah Umur terhadap Mirawati Lainu Saksi korban Dalam Perkara A Quo Terdakwa Christian Fanda *foto.dok Boni*

“Hemat saya, kesaksian Maria menimbulkan sejumlah pertanyaan karena yang bersangkutan memberikan kesaksian hanya berdasarkan mendengar cerita dan melihat sms di handphone saksi korban Mira Lainu serta menjelaskan Handphone yang berisi sms tersebut sudah hilang adalah sesuatu jelas terbaca mengada ada. Kalau model kesaksiannya seperti ini dan malah didengar di fakta persidangan maka semua orang bisa bersaksi. Efek dominonya Hukum positif kita pasti belepotan kedepannya”, sinis Melky.

Dikatakan, mestinya yang dikejar secara mendalam terkait kesaksian seseorang secara berurut ataupun acak yakni sejauh mana yang bersangkutan mengenal saksi korban dan terdakwa, domisili saksi disertai alamat jelas, apa saja pekerjaannya, mengenal dan mengetahui secara pasti tempat kejadian perkara termasuk jam, hari, tanggal, bulan, tahun perkara tersebut terjadi.

“Masgul dan geli saja melihat kesaksian Maria di fakta persidangan yang digelar hingga malam hari. Yang mengherankan koq bisa bisanya pengacara Terdakwa tidak jeli dan malahan terlihat tidak sigap mendalami kesaksian Maria yang terkesan tidak sangat menghormati persidangan tersebut”, sindir Melky.

Keberatan dan penolakan saksi yang dihadirkan Jaksa lanjutnya sepatutnya cerdas dilakukan Pengacara Terdakwa.

“Ini hukum beracara di fakta persidangan. Keberatan, penolakan karena alasan kesaksian yang mengada ada sepatutnya dilakukan Pengacara. Dan sepengetahuan saya, fakta fakta yang terungkap di persidangan akan dicatat panitera sidang, dimasukan dalam risalah sidang dan kemudian akan menuntun Majelis Hakim memutuskan perkara tersebut”, terang Melky.

Disidang mendatang kata advicer hukum tersebut, Pengacara dan Hakim diminta untuk lebih cermat dan teliti mendalami perkara A Quo dengan Terdakwa Christian Fanda.

“Saran saya, kalau boleh jangan sampai larut malam lah. Pengacara Terdakwa dan Hakim sedapat mungkin mendalami perkara tersebut agar bisa terang benderang. Kasian saja dengan bapa Christian Fanda. Menjadi pesakitan atas tuduhan keji yang hingga kini tidak jelas alat buktinya”, tutup Melky.

Investigasi fajartimor, Saksi Maria yang dihadirkan Jaksa tidak jelas alamat dan tempat tinggalnya. Yang berkembang, yang bersangkutan di usir orang tua kandungnya dari rumah karena sebuah alasan prinsip.

Lainnya lagi, dua alat bukti yang menjadi dasar hukum di tahannya Christian Fanda hingga persidangan pada Rabu, 2 Mei 2018 tidak bisa dihadirkan Jaksa Penuntut Umum di fakta persidangan. Bersambung….. (ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top