Home / Berita utama / Kristo Blasin Didera Suka Duka Warga Desa Mata Air
Kristo Blasin Didera Suka Duka Warga Desa Mata Air

Kristo Blasin Didera Suka Duka Warga Desa Mata Air

Kab.Kupang, fajartimor.com-Minimnya perhatian pemerintah atas sejumlah persoalan petani penggarap dan pemilik lahan sawah Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, layaknya onak (rotan berduri) yang tak lekang dimakan usia. Kehadiran Drs. Blasin Kristoforus (Kristo Blasin), justru memupus penantian panjang warga. Kompleksitas Suka duka warga ibarat cemeti yang dipukul (didera) warga ke pundak politisi santun PDIP tersebut yang juga bakal calon Gubernur NTT periode 2018-2023

Kristo Blasin duduk berdampingan dengan Yakobus Boys tokoh masyarakat Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT (foto.dok/boni lerek)

Kristo Blasin duduk berdampingan dengan Yakobus Boys tokoh masyarakat Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT (foto.dok/boni lerek)

Warga Desa Mata Air kebanyakan adalah warga pendatang yang terhimpun dari berbagai suku. Ada warga TTU, ada warga TTS, ada warga Rote, ada warga Sabu, warga Belu, Sumba juga Flores. Semuanya bermukim disini dan mengelola areal sawah seluas 300 Ha, jelas Gabriel Sare perwakilan warga RT 10 yang diamini Yakobus Boys salah satu tokoh kunci warga di areal sawah desa setempat kepada fajartimor, Jum’at (21/04/2017)

Menurut warga, awalnya pengelolaan areal sawah masih menggunakan pola tanam tradisional. Setelah mendapat tekanan pemerintah melalui PPT Pertanian Berkelanjutan maka pola tanam pun kemudian berubah dan terarah.

“Pendidikan masuk sawah, bekerja sama dan kerja bersama sama menanam Padi, termasuk cara pemupukan dan cara penyemprotannya agar terhindar dari serangan hama betul kami dapatkan awal dengan pihak PPT Pertanian Berkelanjutan. Namun selanjutnya hingga hari ini jangankan Pemerintah, PPL saja tidak pernah tunjukan keberpihakannya kepada kami. Tidak ada satu orang pun pemerintah yang datang. Lainnya, untuk mendapatkan pupuk, warga harus bersusah susah. Belum lagi pupuk yang dijual terbatas dan harganya cukup mencekik. Itupun belum termasuk obat obatan bapa Kristo,” keluh Gabriel dan Yakobus diamini warga lainnya.

Hal senadah disampaikan Yuliana Tallo, perwakilan para ibu petani sawah Desa Mata air yang merasakan betapa sulitnya warga mendapatkan pasokan pupuk bersubsidi.

“Omong beli pupuk, kami justru selalu dipersulit. Ketika kita minta pupuk bersubsidi jawabannya sonde ada. Lainnya untuk membeli pupuk per kilogramnya kami tidak dilayani. Sementara itu kami juga harus berjibaku dengan para pemilik modal yang sebelumnya sudah duluan menyetor sejumlah uang yang kisarannya diatas satu juta rupiah untuk pembelian pupuk,” sesalnya

Lainnya lagi kata Yuliana, warga penggarap sawah sangat disulitkan dengan keterbatasan Traktor. Warga penggarap sawah desa mata air hanya memiliki dua hand traktor.

“Kita juga berharap beban persoalan yang sudah menggunung ini, bisa tersalur secara baik dengan kehadiran bapak Kristo. Paling tidak kedepan ada perhatian serius dari para pemangku kepentingan kepada kami yang mendiami sudut sudut kota ini. Alasannya jelas, pasokan beras ke Kota Kupang, sumbangan besarnya juga dari kami para pemilik dan penggarap sawah desa mata air,” harapnya. (ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top