Home / Berita utama / Manao Tewas Dianiaya, Polisi Ayotupas Diduga”Lindungi” 4 Pelaku
Manao Tewas Dianiaya, Polisi Ayotupas Diduga”Lindungi” 4  Pelaku

Manao Tewas Dianiaya, Polisi Ayotupas Diduga”Lindungi” 4 Pelaku

SoE – fajartimor.com –  Bernadus Manao (54) warga RT 016 RW 008 Desa Sono Kecamatan Amanatun Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan meregang nyawa. Korban tewas setelah diduga dianiaya 5 orang pelaku warga setempat. Namun sampai saat ini penyidik Polsek Ayotupas hanya menahan satu orang pelaku atas nama Agustinus Mafeo sedangkan empat pelaku lainnya Yusuf Timo,Yosua Tanu, Martinus Manao dan Simon Nauf bebas berkeliaran.

Kasus penganiayaan yang menyebabkan Bernadus Manao meninggal dunia pada Sabtu 30 Mei 2016 lalu masih meninggalkan tanda tanya dikalangan keluarga korban. Hal ini dipicu penyidik Polsek Ayotupas terkesan melindungi empat pelaku yang terlibat dalam kasus penganiayaan tersebut.

Istri korban Maria Magdalena Nauf  kepada fajartimor.com di SoE Selasa, (19/7/2016) membeberkan kasus tersebut.  Didampingi anak kandung korban Selis Manao dan sejumlah saksi mata Yulianus Mafeo  selaku RT 016,Simon Petrus Timo selaku RW 008,Abraham Mafeo selaku Linmas,Dominika Tafuli dan Damaris Timo warga setempat, Magdalena Nauf mengaku, beberapa jam sebelum kejadian, ia masih bersama suaminya ke kebun dan mengambil hasilnya untuk dijual ke pasar.

Sepulang dari pasar, ia berpapasan dengan anaknya Kris Manao (10) yang hendak ke sungai untuk mandi. Anaknya langsung di ajak pulang karena hari sudah magrib. Setiba rumah, tiba-tiba dirinya didatangi istri dan anak salah satu pelaku Agustinus Manao yakni Marselina Manao dan Wendi Mafeo sembari mengatakan bahwa korban (alm. Bernadus Manao-red) mencuri lalu memukul ternak kambing milik mereka sampai mati.

“Kamu dari pagi dimana, pergi dan lihat suamimu, dia pukul kasi mati kambing kami dan sekarang sudah ditangkap  dan sedang dijaga suami saya”,kutip Magdelena Nauf.  karena Hari mulai gelap,Nauf dan anaknya  Kris Manao pergi mencari keberadaan suaminya dipadang Boysufa namun tidak ditemukan. Tiba – tiba dari jarak kurang lebih 300 meter dilokasi padang Boysufa,terdengar  suara jeritan minta tolong. Ia berusaha mendekat ke arah  sumber suara itu. Dari jarak 10 meter sambil berlindung dibalik pagar batu,  ia melihat terduga pelaku Yusuf Timo memegang senter dan kayu, Yosua Tano dan Agus  Mafeo memegang batu sambil memukul dan menimpuk tubuh korban.

Lantaran panik dan takut keberadaanya diketahui para pelaku, ia bersama anaknya kemudian perlahan meninggalkan tempat kejadian dan bermaksud meminta tolong kepada warga lain dan keluarganya. Namun sesampai dirumah,niat tersebut diurungkan karena hari semakin gelap. Sudah begitu, jarak rumahnya dengan warga lain  dan  keluarga jauh.

“Sampai dirumah saya takut keluar minta tolong ke warga lain karena hari makin gelap dan rumah kami sangat jauh dari rumah warga lain maupun keluarga. Jaraknya sekitar 2 Km.  tidak ada senter untuk  penerangan dan HP untuk menelpon. Tetangga  yang berdekatan dengan  kami justru pelaku Agus Mafeo yang juga pemilik kambing. jadi saya takut sekali keluar rumah “,tutur Nauf.

Dikatakan, ia pun berdiam diri dirumah sampai pagi sambil menunggu khabar keadaan suaminya.Awalnya ia sempat berpikir bahwa para pelaku telah menyerahkan suaminya ke Polsek Ayotupas. Namun perkiraan itu meleset, suaminya justru dianiaya  kelima pelaku di tiga tempat berbeda yakni disekitar padang Boysufa, rumah milik ketua RT 016  Yulianus Mafeo dan rumah milik ketua RW 008 Simon Petrus Timo.

Khabar kematian suaminya diperoleh dari salah seorang kerabat korban Toni Tiumlafu yang juga guru di SMP Katolik Don Bosco Ayotupas, Minggu (1/6) “Minggu pagi saya berangkat menuju rumah keluarga suami saya di Ke’e Desa Lilo. namun dalam perjalanan saya mendapat khabar dari Guru Toni Tiumlafu bahwa suami saya sudah meninggal dirumah ketua RW. saya pun kembali dan  mendapati suami saya sudah terbujur kaku dengan posisi tidur menyamping  ke arah jalan kampung Ponas”,ucapnya sedih.

Saksi mata ketua RT 016 Desa SonoYulianus Mafeo  mengisahkan, tiga terduga pelaku Agus  Mafeo, Yustus Timo dan Yosua Tano saat itu membawa korban ke rumahnya dengan tudingan mencuri kambing. Saat  itu korban sudah dalam kondisi kritis. Namun pelaku Martinus Manao yang muncul tiba-tiba dari arah belakang korban kembali memukuli  bagian wajah dan menendang bagian dada korban. Karena kondisi korban semakin parah, dirinya memanggil anggota Linmas Abraham Mafeo dan membawa korban ke rumah ketua RW desa setempat.

Saksi anggota Linmas Abraham Mafeo  kepada wartawan mengakui dipanggil ketua RT untuk  membantu mengantar korban ke rumah ketua RW. lantaran luka lecet disekujur kaki akibat diseret, korban pun tak bisa jalan sendiri dan terpaksa harus di bopong.

Sesampai di rumah ketua RW lanjut Abraham Mafeo, pelaku lain Simon Nauf  yang datang belakangan memukul dan menendang korban lagi hingga korban jatuh dan akhirnya meninggal dunia. Hal tersebut diamini saksi  Simon Petrus Timo, dua warga Dominika Tafuli dan Damaris Timo yang saat itu berada di lokasi kejadian.

4 terduga pelaku “Dilindungi ” polisi

Empat terduga pelaku penganiayaan yang menyebabkan korban Bernadus Manao  meninggal dunia sampai saat ini masih bebas berkeliaran. Diduga keterlibatan empat pelaku lain  yakni dari TKP pertama di padang Boysufa yang melibatkan  Yususf Timo dan Yosua Tano, TKP  ke dua di rumah ketua RT 016 Desa Sono melibatkan Martinus Manao dan TKP ketiga di rumah ketua RW 008 Desa Sono yang melibatkan Simon Nauf diabaikan penyidik Polsek Ayotupas agar para pelaku  lolos dari jeratan hukum.

Dugaan tersebut menguat, saat proses  Berita Acara Pemeriksaan (BAP), polisi mengabaikan keterangan keterlibatan keempat pelaku tersebut. Bahkan keterangan saksi korban  diarahkan kepada tersangka tunggal Agustinus Mafeo selaku pemilik kambing.

Indikasi lain, Kanit Res Polsek Ayotupas Mares Aipasa sempat membuat berita acara yang isinya menyebutkan saksi korban tidak bersedia memberikan kesaksiannya saat sidang digelar di pengadilan Negeri SoE nanti. Beruntung ada kerabat keluarga korban yang mengetahui isi berita acara tersebut  kemudian emosi dan merobek suratnya.

Perkembangan penanganan kasus tersebut sudah sampai pada tahap rekontruksi yang digelar di kecamatan Amanuban Timur pada 14 Mei 2016 lalu, namun  keluarga korban merasa tidak puas dan mengadu ke Polres TTS. Pihak Polres pun akhirnya merespon dengan melakukan pemeriksaan tambahan.

Anak kandung Korban Selis Manao yang selama ini bekerja di Bali meminta polisi bersikap profesional dalam mengungkap kasus kematian ayahnya. Selaku pelindung dan pengayoman masyarakat, polisi harus memberi edukasi hukum kepada masyarakat dengan menjerat para pelaku untuk diproses hukum tanpa tebang pilih. ” Kami mohon agar polisi bertindak adil, menangkap 4 terduga pelaku lain yang kini masih berkeliaran bebas, sehingga arwah ayah saya tenang di alam sana”, pintahnya. (ft/pol)

About Bony Lerek

Scroll To Top