Home / Nasional / Maria Bifel; Ibu Modern Selalu Ada di Kisaran Tantangan dan Harapan!
Maria Bifel; Ibu Modern Selalu Ada di Kisaran Tantangan dan Harapan!

Maria Bifel; Ibu Modern Selalu Ada di Kisaran Tantangan dan Harapan!

Kupang, fajartimor.com-Hari Ibu yang selalu dirayakan pada setiap tanggal 22 Desember, adalah bagian dari penghormatan kepada seorang per-empu-an yang telah menjadi Ibu. “Ibu pada masa lalu dan masa kini, sarat perbedaan”.

Ibu ibu modern, selalu saja di perhadapkan pada begitu banyak persoalan hidup. Pada satu sisih para ibu modern dituntut untuk aktif melayani anak dan suami di rumah. Tapi pada satu sisih seorang ibu modern pun dituntut untuk bisa memberi arti yang berhasil guna pada rana peri-kehidupan sosial, jelas Maria Magdalena Bifel, S.Sos. MM kepada fajartimor, Selasa (22/12).

Menurut Maria, tantangan besar yang sering menantang para ibu modern adalah perubahan arus informasi yang sudah semakin terbuka.

Maria Magdalena Bifel, S.Sos.MM, bersama sejumlah ibu hebat di DKI Jakarta sedang mengikuti penjelasan Instruksi gubernur nomor: 256 tahun 2015, di Aula Serba guna DKI Jakarta belum lama ini.(foto/dok.boni lerek)

Maria Magdalena Bifel, S.Sos.MM, bersama sejumlah ibu hebat di DKI Jakarta sedang mengikuti penjelasan Instruksi gubernur nomor: 256 tahun 2015, di Aula Serba guna kantor Gubernur DKI Jakarta belum lama ini.(foto/dok.boni lerek)

“Di masa kini, para ibu harus bisa mengenali diri, keluarga (anak anak, suami), dan lingkungan. Mereka harus memawas diri dengan sejumlah tatanan moral, kemudian diaplikasikan secara bertanggungjawab dalam keluarga dan lingkungan. Ada saat dimana, waktunya diluangkan seluas luasnya bagi pendidikan anak anaknya. Ada juga waktu yang seharusnya diluangkan untuk memberi pelayanan yang terbaik bagi suami. Kondisi kekinian dengan begitu terbukanya informasi luar justru membuat seorang ibu terus berada dalam tantangan”, terang Maria.

Terkadang pengalaman hidup bermasyarakat lanjut Maria, banyak sekali informasi dan pembicaraan miring soal ada begitu banyak ibu yang tega menelantar anak anak dan suami hanya karena suatu alasan hidup yang tidak jelas.

“Teknologi informasi yang semakin modern, dibarengi minimnya nilai paham budaya dan adat istiadat rupanya menjadi pemicu rendahnya pertanggungjawaban purna seorang ibu. Bahwa benar ada begitu banyak ibu yang menelantarkan anak anaknya hanya karena alasan ekonomi semu. Ada saja ibu yang harus meninggalkan suami hanya karena alasan ingin hidupnya lebih mapan. Namun justru yang dilupakan adalah nilai hakiki seorang ibu dalam pandangan lama dan modern”, jelas Maria.

Soal tanggal 22 Desember yang disepakati dunia sebagai hari Ibu kata Maria, sepatutnya menjadi awasan moral bagi para ibu, bahwa ibu juga mendapatkan tempatnya yang istimewa dalam kehidupan menggereja, sosial kemasyarakatan dan pranata rumah tangga.

“Sebagai seorang Ibu, saya juga sadar jika di masa kini (modern), para ibu sering dibenturkan dengan tatanan informasi modern, sangat terbuka dan memiliki pengaruh negatif yang cukup signifikan. Tapi terhadap persoalan tersebut, hal penting yang dilakukan yaitu dengan terus memotiasi diri, membentengi diri dengan pandangan pandangan lama yang masih bisa diterima di masa sekarang ini. Bahwa ibu modern di masa kini, sudah tentu akan terus berada pada kisaran tantangan dan harapan. Ketika seorang ibu bisa keluar dari tantangan hidup maka terang yang menjadi harapan hidup banyak orang (anak anak, suami, lingkungan pergaulan/sosial kemasyarakatan) boleh tercapai. Disana di doa ibu-ku nama-ku selalu disebut dan itu berarti benar, Surga ada di telapak kaki Ibu”, papar Maria. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top