Home / Berita utama / ‘Menerka Anak Ideologis PDIP ke Kursi Pimpinan DPRD’
‘Menerka Anak Ideologis PDIP ke Kursi Pimpinan DPRD’

‘Menerka Anak Ideologis PDIP ke Kursi Pimpinan DPRD’

Kupang, fajartimor.com – Sejumlah nama bakal calon pimpinan DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur terus digadang PDI Perjuangan. Dari Lima nominasi nama yang berkembang, asumtif dan agitatif tampil merias dinamika dukungan. Namun terkaan, siapakah anak ideologis PDI Perjuangan NTT, yang bakal didaulat menduduki kursi pimpinan DPRD kini mengalir harum janji.

Jargon tujuan menghalalkan cara, serasa tidak identik dengan spirit, semangat, karsa, platform dan cita-cita besar PDI Perjuangan sebagai partai pelopor.

Gelombang tantangan eksternal dan internal yang silih berganti dan kini terus merecoki ketahanan PDI Perjuangan NTT bak pertempuran legenda Daud dan Goliat.

Ibarat harapan yang tak kunjung sirna, keyakinan akan adanya intervensi invisible hand dalam cara pandang positif rupanya kian menggemah merasuk setiap anak ideologis partai besutan Megawati Soekarnoputri, anak biologis pencetus Pancasila 1 Juni 1945, Presiden RI 1, Ir. Soekarno.

Ditengah arus kepentingan oligarki, PDI Perjuangan NTT harus bisa berbenah diri. Calon pemimpin masa depan partai berlambang Banteng moncong putih, mata merah ini, sepatutnya didaulatkan kepada anak ideologis yang senantiasa mengedepankan keberpihakan kepada marayarakat kecil dengan diilhami Pancasila 1 Juni 1945.

‘Nelson Obed Matara, Yunus Takandewa, Viktor Mado Watun, Emanuel Kolfidus dan Patrianus Laliwolo’ rupanya terus mendapatkan dukungan publik NTT untuk boleh mengambil posisi ketua DPRD provinsi yang pada gilirannya dapat mempertahankan eksistensi PDI Perjuangan sebagai partai pelopor pembangunan dan perubahan.

Lima nama kandidat kuat pimpinan DPRD yang telah mendapatkan dukungan riil rakyat pada pemilu serentak 17 April 2019 belum lama ini akan disaring dan ditapis elit partai ditingkat pusat (DPP PDI Perjuangan).

Ke-lima nama kandidat tersebutpun harus mampu mengejawantakan spirit partai dengan terus menjunjung tinggi jiwa dan karsa Pancasila 1 Juni 1945.

Tidak sampai disitu. Elit partai pengemban semangat juang dan semangat keberpihakan kepada rakyat dengan diilhami Pancasila 1 Juni 1945 selayaknya dimampukan untuk kemudian menemukan siapakah anak ideologis partai yang nantinya dapat diandalkan sekaligus mendapatkan penerimaan rakyat NTT.

Secara gamblang bisa dikatakan, apakah elit partai (DPP PDI Perjuangan), mampu menemukan dan lalu memastikan siapakah anak ideologis PDI Perjuangan NTT, dari ke lima nama kandidat pimpinan DPRD yang dapat menjabarkan spirit Pancasila 1 Juni 1945 agar tidak tergerus perkembangan kepentingan temporer? Atau dengan kata lain, mampukah elit PDI Perjuangan menemukan dan menjatuhkan pilihan soal siapakah anak ideologis partai yang layak didaulat menduduki kursi pimpinan DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur?

Hal penting yang perlu didudukan secara proporsional yakni Pancasila 1 Juni 1945 yang dianut PDI Perjuangan, benar tercermin dalam diri juga semangat keberpihakan ke lima kandidat kuat pimpinan DPRD dan telah dibuktikan dengan kerja-kerja keberpihakan kepada rakyat? Atau malah sebaliknya.

‘Lainnya adalah dari ke lima kandidat kuat pimpinan DPRD NTT, siapakah anak ideologis yang telah meretas dan simultan menjabarkan jiwa dan karsa Pancasila 1 Juni 1945?

Ataukah usaha mensejahterakan rakyat dengan mengedepankan Ketuhanan, yang lalu menghargai peri kemanusiaan dan keadaban demi merebut persatuan dalam cara kepemimpinan yang berkerakyatan, menyongsong kebangkitan usaha madani yang berkeadilan jelas terlihat pada anak ideologis mana dari ke lima kandidat kuat pimpinan DPRD NTT!’

Bak disimpang jalan, rakyat NTT kini berharap cemas. Elit partai penganut Pancasila 1 Juni 1945 kini diperhadapkan dengan pertarungan asa.

‘Mungkinkah Nelson Obed Matara, anak ideologis partai yang layak didaulat menduduki kursi pimpinan DPRD NTT? Atau Yunus Takandewa? Atau Viktor Mado Watun? Ataukah Emanuel Kolfidus? Ataukah Patrianus Laliwolo yang mampu meraih perolehan suara besar dan sekaligus menjadi penentu kemenangan PDI Perjuangan NTT mengungguli partai Golkar sebagai pesaing beratnya!’

Tanggapan dan penegasan elit partai dalam dialektika colektif kolegialitas dengan semangat Pancasila 1 Juni 1945 kini dinanti kaum Marhaen.

Merdeka dalam memutuskan keputusan bijak dan populis adalah spirit Marhaen. Elit partai diharapkan jauh dari tekanan identitas, kelompok kepentingan pragmatis, organisasi dan rasa SARA demi menghasilkan anak ideologis partai sebagai pimpinan DPRD dan sekaligus menjawab keseimbangan pelayanan juga pelopor keberpihakan kepada rakyat. (ft/boni)    

About Bony Lerek

Scroll To Top