Home / Berita utama / Partai Hadir Bukan Karena Keinginan Lembaga Survei
Partai Hadir Bukan Karena Keinginan Lembaga Survei

Partai Hadir Bukan Karena Keinginan Lembaga Survei

Kupang, fajartimor.com – Dinamika Kehadiran Partai menjawab tantangan demokrasi di Negara Republik Indonesia tidak karena keinginan Lembaga Survei. Sebaliknya, ragam partai yang muncul dan menghiasi sistim demokrasi bangsa ini hanya untuk menjawab harapan dan keinginan besar rakyat.

Kemarin di era orde baru rakyat jenuh dengan dominasi satu partai. Di era orde reformasi, rakyat kemudian bisa ber-eskpresi. Partai lalu menggalang kekuatan dengan merekrut sejumlah elemen handal. Sumber Daya Manusia Partai kemudian digenjot dengan doktrin kerakyatan yang menjadi semangat juang partai. Sistim pengkaderan pun menjadi harga tawar partai bagi seluruh anggota yang terjaring dalam struktur kepengurusan. Luar biasanya, yang unik dan berkembang kini, Partai dan para kader handelnya harus tunduk dan patuh dibawah sebuah kekuatan besar yang namanya Lembaga Survei Independen, kesal Melky Darang salah seorang pengamat independen kepada fajartimor bertempat di kediamannya di bilangan perumahan TDM V, Sabtu (18/03/2017).

Menurutnya, mengakar tidaknya ataupun merakyat tidaknya partai dan kader kader handalnya, sangat terpegantung pada seberapa besar keberpihakan yang ditunjukan melalui kerja dan pelayanan.

“Lembaga Survei Independen dalam aktifitas pelibatan sejumlah organ kemudian memberi nilai sedikit soal seberapa besar tingkat kesukaan warga atau rakyat kepada partai dan para kadernya. Itu berarti Lembaga Survei juga tidak dalam kapasitas dan tekanan seolah olah dialah satu satunya yang menentukan partai A, B, C dan seterusnya juga Kader partai A, B, C dan seterusnya betul mengakar dengan rakyat. Hemat saya, tekanan Lembaga Survei soal Elektabilatas Partai dan para kader kadernya harusnya menjadi pemicu ditingkatkannya semangat pelayanan total kepada rakyat yang nantinya secara terus menerus mendapatkan kepercayaan entahkah itu di Parlemen ataupun posisi strategis politis di Birokrat. Saya kira itu kuncinya,” papar Melky.

Banyak sekali testimoni (fakta yang bisa dibuktikan) ucapnya, yang mungkin saja dapat dijadikan sebagai acuan dan bahan kajian partai dan kader kadernya bahwa Survei Elektabilitas Lembaga Survei Independen justru jauh sekali dari harapan.

“Tidak usah jauh jauh. Paket Sahabat di pilkada Kota Kupang, dalam Survei Elektabilitas, justru prosentasenya diatas Paket Firman-Mu. Faktanya, kalah di Pemilihan. Paket Bereun di Flotim, survei elektabilitas berada di urutan ke empat. Tapi pemilihan justru menang. Paket Agus-Silvi, saat di survei prosentasenya justru berkejar kejaran dengan paket Ahok-Djarot. Tapi disaat pemilihan, hasilnya menduduki urutan buncit. Hal yang sama juga terjadi di Amerika. Hasil Survei, Hilary Clinton berada di urutan teratas. Namun hasil pemilihannya justru Donald Trump-lah yang terpilih sebagai Presiden. Lainnya lagi, sejumlah partai besar justru memberi penghargaan kepada para kadernya tanpa melalui pertimbangan dan tekanan Lembaga Survei Independen. Tak peduli, urusan menang atau kalah itu urusannya nanti. Karena hasil pantauan lapangan, Lembaga Survei Independen, dalam melakukan Survei hanya didasarkan pada sampel responden yang sebelumnya sudah disiapkan jauh jauh hari. Dan hal itu justru akan sangat kontra produktif dengan psikologi pemilih Indonesia apalagi NTT yang hemat saya masih sangat kental dengan politik identitas dan politik keberpihakan. Dan saya kira partai dan para kadernya sangat memahami betul hal tersebut,” urai Melky.

Dikatakannya, Partai hadir karena harapan dan keinginan besar rakyat. Rakyat tentunya menaruh harapan besar atas seluruh realita Kerja dan pelayanan partai juga kadernya.  Bila kemudian rakyat tidak memberi kepercayaan lagi maka itu adalah konsekuensi yang harus diterima atas ketidakberpihakan partai dan para kadernya.

“Bila kemudian Survei Elektabilitas Lembaga Survei Independen menjadi kekuatan baru yang ikut menentukan arah dan langkah partai dan kader kadernya maka saya kira hampir bisa dipastikan jiwa, spirit partai sudah hilang dan sirna. Sistim Kaderisasi secara berjenjang sudah bukan menjadi roh partai. Lebih dari pada itu, semua yang berhubungan dengan semangat juang, program, visi, misi dan platform partai menjadi sesuatu yang berlabel dan berlaku formil bila dibutuhkan,” tutup Melky. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top