Home / Berita utama / Pekerjaan Hotmix Jalan Nasional, Gako-Aegela, Hancur Setelah Sehari Dikerjakan
Pekerjaan Hotmix Jalan Nasional, Gako-Aegela, Hancur Setelah Sehari Dikerjakan

Pekerjaan Hotmix Jalan Nasional, Gako-Aegela, Hancur Setelah Sehari Dikerjakan

Ende, fajartimor.com – Pekerjaan Hotmix Proyek Peningkatan Jalan  Nasional Ruas Gako-Aegela, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT retak, pecah, patah, amblas dan hancur pada  beberapa titik. Padahal proyek dengan nilai sekitar Rp 18 Milyar tersebut baru di hotmix sehari sebelumnya saat dikunjungi dan dipantau Kepala Balan Jalan Nasional X Kupang, Mochtar Napitupulu pada Selasa (14/1/20).

Seperti disaksikan Tim Investigasi media ini pada Senin (13/1/20) sore, belum tampak adanya persiapan untuk pekerjaan hotmix pada ruas jalan Gako-Aagela. Tampak 1 unit excavator dan 1 unit Fibro diparkir di Wolowea, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Beberapa ret batu kali dan pasir gunung tampak ditumpuk di sisi jalan untuk pekerjaan drainase dan tembok penahan. Galian drainase tampak digenangi air sekitar 30 cm.

Belum ada kegiatan pemadatan badan jalan yang diperlebar. Belum juga nampak aspal perekat (prime coat, red) yang telah dihampar di lokasi tersebut. Namun anehnya, saat kunjungan Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang ke esokan harinya (Selasa, 14/1/20), PT. AGG langsung melakukan pekerjaan hotmixnya di Desa Wolowea.

Saat dipantau Tim Investigasi media ini pada Rabu (15/1/20) sekitar Pukul 16.30 sore, tampak 1 unit mobil penggilas hotmix sedang diparkir di lokasi hotmix. Jalan yang telah di hotmix dikedua sisinya sekitar 50 m. Sekelompok tenaga kerja terlihat berada di sekitar lokasi tersebut.

Namun tak tampak ada aktivitas atau pekerjaan hotmix saat itu. Menurut warga setempat, pekerjaan prime coat dan pekerjaan hotmix dilakukan pada hari Selasa (14/1/20) sekitar 500 meter panjang jalan.

Yang mengagetkan, sekitar 400-an meter dari lokasi (tempat diparkir mobil penggilas hotmix, red) tampak ada hotmix yang telah amblas, retak dan patah. Kerusakan tersebut terjadi pada sisi badan jalan yang diperlebar, tepatnya di badan jalan depan rumah Bapak Zakarias Jeke.

Tampak 1 unit Fibro sedang melakukan pemadatan badan jalan disekitar lokasi tersebut. Badan jalan yang diperlebar (sekitar 1,5 meter, red) disiram dengan air dari selang yang dipegang oleh pengemudi Fibro.  Genangan air berlumpur pada badan jalan (yang diperlebar, red). Material berupa kerikil kali/bulat (yang dipakai sebagai Agregat A oleh PT. AGOGO, red) ditimbun sehingga badan jalan utama. Tampak genangan air berlumpur pada badan jalan (yang diperlebar, red).

Badan Jalan yang diperlebar yang disiram untuk pemadatan becek dan berlumpur karena material yang digunakan berupa kerikil kali/bulat bercampur pasir dan lumpur di Desa Wolowea.
Sedangkan 1 unit excavator sedang meratakan material berupa kerikil kali/bulat bercampur pasir berlumpur ke dalam lubang galian badan jalan yang diperlebar tak jauh dari lokasi hotmix. Namun tak tampak pekerjaan hotmix saat itu.

Keesokan harinya, Kamis (15/1/20) sekitar Pukul 16.30 sore, Tim Investigasi media ini kembali memantau ruas Jalan Gako-Aegela. Tak ada aktivitas alat maupun tenaga kerja di ruas jalan tersebut. Mobil penggilas hotmix masih terlihat di tempatnya semula. Tak ada tambahan panjang jalan yang di-hotmix.

Tim Investigasi kembali dikagetkan dengan tambahan 2 titik baru kerusakan hotmix di Desa Wolowea tersebut.  Titik baru dengan kerusakan yang lebih parah berada tepat di depan rumah seorang Guru, Gaspar Lopi.  Ditemui di lokasi tersebut, Lopi mengatakan, kerusakan tersebut baru mulai terjadi pada Rabu kemarin. “Mulai pecah kemarin. Itu sudah amblas, hancur dan terbongkar begitu,” ujarnya sambil menunjuk kerusakan yang sedang diamati oleh beberapa warga lain.

Tampak hotmix yang amblas, pecah dan hancur/terbongkar dari badan jalan sekitar 1,5 meter x 1,5 meter. Sedangkan yang amblas, retak dan pecah sekitar 1,5 m x 4 meter pada badan jalan yang baru diperlebar. Tampak bongkahan-bongkahan aspal terbongkar dari badan jalan. Lumpur dari bawah lapisan hotmix juga tampak terbongkar bersama bongkahan-bongkahan aspal.

Gaspar Lopi, Zakarias Jeke dan beberapa warga lain yang ditemui di lokasi tersebut menyatakan kekecewaannya terhadap pekerjaan hotmix oleh PT. Agogo Golden Group (AGG) tersebut. “Kenapa permukaannya kasar sekali? Lihat saja hanya dilewati motor saja aspalnya sudah terbongkar,” ujarnya sambil menunjuk bagian pinggir jalan (menuju lorong disebelah rumahnya, red) yang tampak mulai terbongkar.

Gaspar Lopi menyayangkan rendahnya kualitas hotmix yang dikerjakan PT. AGOGO. “Kalau kualitasnya begini, pasti tidak lama lagi akan rusak. Ini kalau kena air hujan beberapa kali akan terbongkar. Saya kira ini masih dilapis lagi?,” ungkapnya.


Permukaan hotmix yang kasar dan tampak campuran kerikil kali/bulat
Tampak juga titik kerusakan baru (titik ke-3), diantara titik pertama dan titik kedua. Pada titik ini baru mulai amblas dan retak. Diameternya sekitar 0,5 meter x 0,5 meter per segi.

Sementara itu ditik ke-4 di ujung hotmix terlihat juga retakan dan pecahan hotmix. Ukuran retakan sekitar 0,5 meter x 1 meter.

Direktur PT. Agogo Golden Group (AGG), Rekta Mandrawa yang dikonfirmasi media ini melalui telepon selularnya tak menjawab panggilan. Dikirimi pesan via WhatsApp pun tak meresponnya hingga berita ini ditayangkan.

Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, Mochtar Napitupulu pun tak menjawab 2 pangilan dan 1 pesan WhatsApp. Begitu pula Kasatker Pelaksanaan Jalan Wilayah IV, Herman Rohi dan PPK, Donatus Nelo tak menjawab panggilan telepon dan pesa WhatsApp hingga berita ini ditayangkan.

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, pekerjaan pelebaran jalan pada ruas Jalan Gako-Aegela, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo terlambat diselesaikan oleh kontraktor pelaksana PT. Agogo Golden Group (AGG). Menurut Kasatker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV, Herman Rohi, progres fisik pekerjaan hingga 31 Desember sekitar 33 persen.

Seperti disaksikan tim investigasi media ini Sabtu (11/1/20) siang tampak ada pekerjaan pelebaran, penimbunan badan jalan, tembok penahan dan drainase sekitar 3,9 km dari Poko menuju Aegela, Kabupaten Ende. Pekerjaan pelebaran masih sedang dikerjakan. Begitu pula dengan pekerjaan penimbunan yang menggunakan kerikil kali/bulat bercampur pasir dengan ke dalam lubang garukan sekitar 30 cm.

Pekerjan drainase dan dinding penahan pun masih sedang dikerjakan. Pasangan drainase yang terpasang sekitar beberapa ratus meter. Sementara yang lainnya masih berupa galian tanah yang digenangi air hujan sehingga jalan menjadi becek dan licin.

Pekerjaan hotmix pelebaran sepanjang 3,9 km juga belum dikerjakan sama sekali. Masih terlihat lubang-lubang garukan sekitar 30 cm dan timbunan material berupa kerikil kali/bulat bercampur pasir (sebagai agregat, red) di sisi jalan.

Tampak 1 unit excavator, 1 unit Fibro dan satu unit dump truck di sekitar Kecamatan Boawae. Terlihat beberapa orang tenaga kerja berada di tempat alat berat itu diparkir. Di ruas jalan ini juga tampak beberapa walas kecil yang digunakan untuk pemadatan agregat.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Donatus Nelo yang dikonfirmasi media ini melalui telepon selularnya mengatakan, “Kalau ada kesalahan di lapangan nanti akan diperbaiki dan diganti,” ujarnya.

Usai dihubungi per telepon selular, Nelo mengirim pesan WA kepada media ini, “Agregat yang tidak sesuai dengan spek akan diangkut dan diganti semuanya,” tulisnya kemudia dihapus beberapa menit kemudian.

Kepala Balai Jalan Nasional  X Kupang, Mochtar Napitupulu juga melakukan inspeksi mendadak pada Selasa (14/1/20) kemarin ke-4 lokasi proyek Jalan Nasional yang dikerjakan oleh PT AGG di sekitar wilayah Ende, Ngada, dan Nagekeo.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV Propinsi NTT, Herman Rohi yang dikonfirmasi terkait kunjungan mendadak Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, membenarkannya. “Benar. Besok saya bersama Kepala Balai ke Ende untuk memantau 4 paket pekerjaan jalan APBN yang dikerjakan PT. AGG,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya.

Seperti disaksikan tim media ini, Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang, Mochtar Napitupulu menggunakan mobil hitam menuju arah barat Kota Ende untuk melihat proyek Jalan Nasional ruas Ende-Detusoko yang sedang dikerjakan oleh PT. AGIGO. Tim investigasi media ini yang juga turun ke lokasi proyek sempat berpapasan dengan mobil yang ditumpangi Kepala Balai Jalan Nasional X Kupang di Wolofeo.

Tidak seperti sehari sebelumnya (Senin, 13/1/20), pada Selasa (14/1/20) di lokasi proyek tersebut tampak ada beberapa kegiatan seperti pembuatan marka jalan, pemindahan material urukan, dan droping 3 ret batu kali di lokasi galian drainase dan deker pada hari kunjungan Kepala Balai Jalan Nasional.

Usai melihat progres di lapangan, Mochtar Napitupulu melakukan rapat evaluasi dengan para kontraktor pelaksana proyek APBN di wilayah kerja Satker Pelaksanaan Jalan Nasional wilayah IV Propinsi NTT. Tim media ini berusaha mengkonfirmasi Napitupulu melalui telepon selularnya dan pesan WhatsApp namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan.

Informasi yang dihimpun tim media ini, Napitupulu kecewa dengan hasil pekerjaan dilaksanakan oleh PT. AGOGO. Kasatker Pelaksanaan Jalan Nasional wilayah IV Propinsi NTT, yang dihubungi via WhatsApp membenarkan adanya rapat evaluasi usai kunjungan lapangan pada Senin (13/1/20) malam di Kantor Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV Propinsi NTT di Ende. (cn/ft/ian/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top