Home / Berita utama / ‘Quo Vadis’ Jembatan Palo Tanah Merah
‘Quo Vadis’ Jembatan Palo Tanah Merah

‘Quo Vadis’ Jembatan Palo Tanah Merah

Kupang, fajartimor.com-Panca ragam pendapat, rencana pembangunan proyek mercusuar Jembatan Palo-Tanah Merah, senilai 5,1 Triliun kini menghiasi alur berpikir sementara orang di NTT. Ada yang senang ada yang tidak senang.

Pertanyaan demi pertanyaan yang bermunculan sebagai bentuk apresiasi warga, menjadi kiat sosialisasi Dinas teknis yang bisa dikatakan telah terwujudkan. Namun hal prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah rangkaian kajian apa saja yang perlu dilakukan sebelum sampai pada aksi pembangunan Jembatan Palo-Tanah Merah Flotim yang mengundang decak kagum itu, kata Andre Koreh, kadis PU Provinsi NTT di ruang kerjanya, Kamis (12/11).

Menurut Andre, pengalaman membangun kerja sama dengan pihak asing, dalam menata dan membangun infra struktur jalan dan jembatan di wilayah Nusa tenggara Timur, merupakan modal dasar. Celah itu pun diselaraskan dengan momentum Nawacita pemerintah pusat yang salah satu butirnya berisi klausal membangun indonesia dari pinggiran.

“Seiring dengan perjalanan waktu, antara peluang dan tantangan berdasarkan sejumlah kajian lapangan kita pun mendapatkan momentum. Sebagai pintu masuknya, kita sodorkan tawaran pembangunan jembatan mercusuar Palo-Tanah Merah. Format baku yang telah disiapkan Dinas teknis, diikuti dengan format pemaparan. Pada saat paparan laporan, para ahli konstruksi, assosiasi, termasuk DPRD diundang secara resmi. Setelah mendapat persetujuan pemerintah dan parlamen, kemudian dialokasikan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar yang khusus diperuntukkan untuk kegiatan visibility study. (Atau dengan kata lain studi kelayakan dengan cara melihat dari dekat, kondisi, keadaan laut, panjang, lebar, titik koordinat, bentangan, luas dan lain sebagainya). Dan sebagai bentuk pertanggungjawabannya, dinas PU yang adalah eksekutor, mengeksekusi kebijakan anggaran yang ada dalam peraturan APBD, begitu!”, papar Andre.

Kegiatan visibility study yang dilakukan secara terarah dengan sejumlah awasan regulasi tersebut kemudian mendapatkan respon positif dari pemerintah pusat. Oleh karena itu pada tahun anggaran 2016, melalui Dirjen kementrian PU khususnya Balai Jalan dan Jembatan, telah disediakan anggaran sebesar Rp 10 miliar untuk kepentingan kegiatan Detail Engeenering Desaign.

“Berdasarkan visibility study yang dilakukan daerah (baik laporan awal, laporan pertengahan dan laporan akhir), pusat kemudian dengan porsinya menyiapkan detail engeenering desaign berupa analisa teknik dan analisa ekonomi termasuk di dalamnya analisa sosial dan amdal. Dalam analisis teknik tentunya hal yang nantinya menjadi perhatian adalah menggunakan perhitungan perhitungan ekonomi teknik,(menggunakan parameter apa yang disebut dengan net present falue untuk masa 25 tahun. Jadi keuntungan selama 25 tahun itu ditarik dari sekarang). Selanjutnya menggunakan perhitungan internal ret return (bagaimana menghitung dalam suku bunga sekian persen, apakah ini nilainya positif). Dan parameter yang berikutnya adalah dengan menggunakan hitungan benefit ostrasium, yaitu sesuatu yang normatif berdasarkan perhitungan perhitungan visibility study, yang kemudian akan mendapatkan hasilnya secara teknis dan ekonomi”, beber Andre.

Sebesar Rp 5,1 triliun dalam frame rencana pembangunan Jembatan Palo-Tanah Merah jelas Andre, masih dalam perhitungan makro, karena belum diikuti dengan Detail Engeenering Desaign.

“Yang jelas dalam perkembangannya akan muncul pertanyaan, kenapa nilainya 5,1 triliun? Nilai sebesar ini sebenarnya terarah kepada kelayakan rasio lebih dari 1IRR positif. (Artinya lebih besar dari tingkat suku bunga net present  value positif). Asumsi lainnya adalah jika rencana awalnya dari umur 25 tahun ditingkatkan menjadi 50 tahun atau 100 tahun dengan sendirinya benefidnya semakin besar.  Itu dari sisi ekonomi teknik! Sementara ada juga benefid yang tidak bisa diukur dengan uang yang disebut dengan intangible benefid (Ada rasa bangga, rasa aman, karena selat Gonsalo itu selat yang sangat ganas dan seringkali banyak menelan korban, menambah nilai benefid pariwisata selain wisata rohani samana santa). Lalu hal prinsip dan terpenting adalah kajian visibility study yang nantinya terarah pada detail engeenering desaign untuk mendapatkan real cost, sehingga saat dipresentasikan kepada negara pendonor atau siapapun yang membangun, katakanlah Jaica Jepang dan sejumlah lembaga lembaga konsorsium yang lain di eropa, dapat diterima dengan sendirinya. Intinya, yang kita sodorkan kepada Negara Negara pendonor yaitu pekerjaan yang menantang dalam tanda petik”, urai Andre.

Bahwa sumbangan pikiran entahkah itu bernada dukungan dan protes, ucap Andre adalah dialektika konstruktif.

“Pro dan kontra itu wajar. Kita pasti selalu berikan apresiasi. Keyakinan saya, pada saatnya semua elemen di daerah akan turut merasakan sisi baik dari pembangunan jembatan Palmerah”, aku Andre. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top