Home / Budaya / Rambu Atanau Mella, Kantongi Hak Cipta 10 Motif Tenun Ikat TTS
Rambu Atanau Mella, Kantongi Hak Cipta 10 Motif Tenun Ikat TTS

Rambu Atanau Mella, Kantongi Hak Cipta 10 Motif Tenun Ikat TTS

SoE, fajartimor.com-Perjuangan panjang mendapatkan pengakuan atas sejumlah motif tenun ikat berujung manis. Rambu Atanau Mella pun didaulat Kemenkumham RI menjadi pemilik hak cipta 10 motif tenun ikat asli TTS.

Hasil dan kreatifitas anak bangsa yang menjadi kekhasan budaya di sejumlah masyarakat lokal Timor Tengah Selatan, berupa motif motif tenun ikat yang beraneka ragam merupakan cetusan kekhasan sejumlah marga. Dalam perjalanannya, untuk mendapatkan pengakuan pusat dibutuhkan sinergisitas antar lembaga pemerintah dan lembaga adat. Atas usaha dan kerja keras, Pemerintah daerah melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) diberikan ruang untuk dan atas nama marga marga pemilik motif tenun ikat telah mendapatkan kedaulatan hak cipta, jelas Rambu Atanau Mella, ketua Dekranasda yang juga Direktur Sanggar Suara Perempuan TTS kepada fajartimor belum lama ini.

Menurut Rambu, hak cipta 10 motif tenun ikat yang dikeluarkan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia diberikan kepada dirinya yang kini menjabat sebagai ketua Dekranasda kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Setelah melakukan konsultasi yang intens dengan Departemen Hukum dan Ham, Pemerintah daerah kemudian diberi ruang untuk bisa mengatasnamakan hak cipta motif tenun ikat dari marga bersangkutan. Dan sebagai ketua Dekranasda yang mewakili pemerintah daerah, saya pun diberikan kewenangan berupa hak cipta atas 10 motif tenun ikat asli TTS”, tegas Rambu.

Selanjutnya kata Rambu, para tua adat yang paham betul akan cerita 10 motif tenun ikat tersebut dikumpulkan untuk dimintai masukannya demi alasan penyempurnaan.

“Kita berharap, pada saat sosialisasi hak cipta 10 motif tenun ikat tersebut, dilengkapi juga dengan narasi dan cerita dari masing masing motif tenun ikat, sehingga nantinya masyarakat umum dan dunia akan lebih mengenal secara dekat”, terang Rambu.

Sisih lainnya ucap Rambu, lomba tenun ikat akan lebih digiatkan di daerah, termasuk penyelenggaraan vestifal budaya untuk tujuan promosi kerajinan daerah.

“Setelah tersosialisasi, ikutan lainnya adalah dikembangkannya sonasi pemasaran entahkah itu di area pasar tradisional atau pun pasar modern. Upaya dan komunikasi antar lembaga terkait sudah dan sedang kita lakukan. Koordinasi dengan dinas perindustrian dan koperasi untuk segera menyiapkan infra struktur gedung promosi adalah bagian dari usaha kita. Selain itu daerah daerah yang menjadi destinasi wisata pun akan menjadi tujuan pemasaran tenun ikat tersebut. Terobosan lainnya yaitu dengan menghidupkan lapak online tenun ikat asli TTS, juga selalu ada pada setiap ajang pameran berskala nasional dan internasional”, urai Rambu.

TTS kedepan, tegas Rambu, harus memiliki sebuah museum yang dapat menghimpun keragaman unik dan keaslian budadyanya untuk kepentingan anak cucu.

“Saya pun telah mengusulkan ke pemerintah daerah, untuk dibangun sebuah museum yang nantinya dapat menyimpan benda benda berharga yang merupakan kearifan budaya TTS. Hitungannya, ketika orang ingin mengetahui keunikan budaya TTS, mereka bisa mendapatkannya di museum tersebut”, aku Rambu. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top