Home / Berita utama / ‘Serangan Ulat Grayak, Luka Baru Ekonomi NTT’
‘Serangan Ulat Grayak, Luka Baru Ekonomi NTT’

‘Serangan Ulat Grayak, Luka Baru Ekonomi NTT’

Kupang, fajartimor.com – Serangan Ulat Grayak pada Lahan Pertanian Warga di Kabupaten Ngada, Kecamatan Soa, Desa Mengeruda dan Desa Tarawali serta Kabupaten Flotim, Kecamatan Titehena, Kecamatan Tanjung Bunga dan Kecamatan Solor dinilai akan berdampak ekonomis. Kerugian bisa mencapai miliaran rupiah yang berujung Luka Ekonomi Baru di Nusa Tenggara Timur.

Penegasan tersebut disampaikan Patris Laliwolo, Anggota DPRD NTT, Fraksi PDI Perjuangan kepada media ini terkait fakta serangan Ulat Grayak di Lahan Pertanian Warga saat Reses per-tanggal 13 Maret dan 17 Maret 2020 di Kabupaten Ngada dan Flotim.
Menurut Bendahara Partai besutan Megawati Soekarnoputri tersebut, serangan Hama Ulat Grayak pada tanaman Padi dan Jagung di ribuan area pertanian warga akan sangat berdampak kepada gagal panen dan rawan pangan.
“Pemerintah Provinsi dan Kabupaten harus sigap dengan memperluas rentang kendali. Karena faktor gagal panen adalah sesuatu yang pasti dan tentunya rawan pangan tidak bisa terhindarkan,” tandas Patris.

Serangan Ulat Grayak pada Tanaman Jagung (foto/dok. Insert)

Fakta luas serangan Hama Ulat Grayak pada lahan seluas 4.285 Ha yang semakin memprihatinkan, diperkirakan akan terus menyerang lahan pertanian warga. Dan lahan yang terancam bisa dikisaran luasan 7.787 Ha.
“Dari yang kita dapat di lapangan, luas tanam baik Padi dan jagung pada lahan pertanian warga seluas 12.072 Ha. Luas pengendalian hanya 2.065 Ha. Sementara yang tidak ada pengendalian dikisaran luasan 2.220 Ha,” terang Patris.

Saat ini juga kata Politisi Multi talenta tersebut, ada serangan hama tikus di 1.200 Ha tanaman padi.
“Gagal panen padi produksi tinggal 5 %. Dan karena serangan Hama Tikus, dari 1 Ha yang jika dipanen 7 ton, kini akan berkurang pada angka 0.25 ton,” aku Patris.
Dikatakannya, dukungan pestisida dan pemberantasan hama masih kurang. Tenaga PENGAMAT HAMA dan biaya operasional juga kurang. Lainnya, PPL yang harusnya menjadi tulang punggung justru sangat kurang dengan ratio 1 PPL: 3 desa, yang bisa dibilang tidak efektif. “Kondisi serangan Hama Ulat Grayak dan Hama Tikus pada lahan padi dan jagung warga tersebut sudah masuk kategori KLB (Kondisi Luar Biasa). Pemerintah sudah semestinya menjaga stock pangan, termasuk menyediakan Dana tanggap darurat agar nantinya KLB tersebut tidak menjadi Luka Ekonomi Baru di NTT,” saran Patris.

Diakuinya, dari fakta lapangan, didapatkan pengakuan jika Penyuluh Pertanian tidak ada dari APBD 1.
“Intervensi APBD 1, untuk Penyuluh Pertanian sangat diharapkan, agar pada gilirannya, ada sinergitas demi mewujudkan Petani NTT yang Maju, Mandiri dan Modern,” usul Patris. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top