Home / Berita utama / ‘Serobot Tana Warga, Disperindak Kota Hambur Uang Negara?’
‘Serobot Tana Warga, Disperindak Kota Hambur Uang Negara?’

‘Serobot Tana Warga, Disperindak Kota Hambur Uang Negara?’

Kupang, fajartimor.com – Proyek Pembangunan Pasar Bimoku yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus tahun anggaran 2018 yang lokasi pembangunannya di Tana Keluarga Ndun di Kelurahan Lasiana Kota Kupang dengan pola sepihak (serobot) oleh Disperindak dan pihak ketiga (CV. Kawan Lama Mandiri) diduga kuat sebagai bagian dari upaya menghamburkan uang Negara.

Penegasan tersebut disampaikan warga setempat yang bermukim dekat objek Tana keluarga Ndun (lokasi pembangunan Pasar bimoku), yang paham betul tahapan proses dan normalnya prosedur pelaksanaan paket pekerjaan pemerintah kepada fajartimor, Rabu (04/07/2018).

“Sepatutnya yang dilakukan awal oleh Pemkot yakni survei lokasi, mediasi para pihak, pembebasan lahan, perencanaan (Development Enginering Design/DED), pematokan dan kemudian aksi lapangan. Ini kok tiba tiba ada yang datang dengan alat berat lalu melakukan aktifitas kerja tanpa permisif”, herannya.

Belakangan baru diketahui katanya kalau pekerjaan tersebut adalah Paket Pekerjaan Pasar Bimoku Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Kupang!

Proyek Pekerjaan Pembangunan Pasar Bimoku, Tahun 2018 yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus, di Objek Tana milik Bapa Ch. Ndun dan Keluarga. persisnya berlokasi di RT/RW:27-28/07Kelurahan Lasiana-Kota Kupang (foto istimewa)

“Ketika di cek keluarga Ndun yang adalah pemilik Tana, barulah diketahui jika pekerjaan ini adalah pekerjaan pasar Bimoku Disperindak Kota Kupang. Pihak CV. Kawan Lama Mandiri, sebagai kontraktor pelaksana pun diminta keluarga untuk segera menghentikan aktifitas pembangunan dan angkat kaki dari lokasi atau objek Tana ini”, terangnya.

Dari sejumlah informasi yang berhasil didapat ucapnya, Paket Pekerjaan Pasar Bimoku tersebut lokasinya pun di tempat lain!

“Kita juga kemudian mendapat informasi akurat kalau lokasi pekerjaan pasar Bimoku bukan di tempat yang kini aktifitasnya sudah dihentikan keluarga Ndun. Dan bila kemudian hal ini yang terjadi maka alangkah luar biasanya pemerintah kota hari ini ada dalam dugaan menghamburkan uang negara. Aksiomatiknya (pertanyaan umum), dana survei lokasi dikemanakan? Dana mediasi dikemanakan? Dana Pembebasan lahan dikemanakan? Perencanaannya dibuat seperti apa? Ketika dihentikan seperti ini terkait persoalan kepemilikan Tana, pertanyaannya adalah pencairan tiga puluh persen tahap pertama dikemanakan?”, tudingnya.

Bapa Ch. Ndun pewaris Objek Tana Lokasi Pembangunan Pasar Bimoku yang dimintai klarifikasinya terkait persoalan tersebut tegas mengatakan bahwa Peringatan keras dari pihaknya kepada Pemerintah Kota Kupang dengan pola ketimuran jauh-jauh hari sudah dilakukan. Namun peringatan pihaknya justru dibalas dengan surat teguran salah alamat kepada 13 KK oleh Sekda Bernadus Benu, SH,M.HUM.

Bukti intervensi sepihak Pemkot berupa surat teguran kepada warga yang sebagian besarnya jauh dari Objek Tana (foto istimewa)

“Tana ini dikuasai keluarga Ndun secara turun temurun. Ada buktinya. Tadi ada petugas dari Kota datang dengan dikawal Satpol PP yang katanya mau ukur Tana. Saya hanya berdiri dan lihat mereka mau ukur Tana yang mana dan dari mana? Mereka kemudian pulang karena tidak bisa menjawab pertanyaan prinsip anak-anak saya”, beber Ch. Ndun.

Mirisnya lagi lanjutnya, pemerintah kota sebegitu enaknya menunjukan bukti sertifikat kepemilikan atas Objek Tana tersebut seluas 3 hektar lebih produk Badan Pertahanan Negara tahun 2015.

“Dibilang lancang dan seenak perut juga kurang santun tapi faktanya Pemkot kok bisa-bisanya mengeluarkan bukti sertifikat Tana seluas 30 ribu meter lebih tahun 2015? Kalau begini caranya, ya objek Tana yang diinginkan Pemkot sekalipun itu adalah Tana Warga maka Serfikat pasti diterbitkan BPN!”, berang Ch. Ndun.

Sementara Buce Mbatu Ketua RT 27, RW 07 Kelurahan Lasiana yang berhasil diambil keterangannya tegas menjelaskan jika persoalan penyerobotan tana diikuti aktifitas pekerjaan pembangunan Pasar Bimoku tidak didahului sosialisasi juga pemberitahuan prinsip pihak Pemerintah Kota Kupang.

“Tiba-tiba ada pekerjaan diatas tana milik keluarga Ndun. Sebagai penanggung jawab pemerintah di tingkat RT harusnya kita diberi tahu dong. Dan karena belum ada titik temu antara pemerintah dan pemilik objek tana dalam hal ini Bapa Ch. Ndun dan keluarga besar maka kita juga meminta agar pekerjaan tersebut dihentikan sampai ada kata sepakat”, tandas Buce. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top