Home / Catatan Redaksi / ‘Ti’as dan Kuita, Awasan atau Peluang’
‘Ti’as dan Kuita, Awasan atau Peluang’

‘Ti’as dan Kuita, Awasan atau Peluang’

Peringatan akan adanya penghormatan terhadap nilai nilai dasariah dalam peri kehidupan sosial kemasyarakatan harus diakui sebagai yang telah ditanam para pendahulu kehidupan. Kelompok apapun itu bentuknya, baik yang terhimpun dalam wadah Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan senantiasa dibingkai nilai nilai kebersamaan. Tenggang Rasa, tepo seliro, solider, senasip seperjuangan, tegur sapa juga segudang indeks kebersamaan adalah ciri laku yang ditunjukan dan dominan disenyatakan dalam setiap praktek kehidupan.

Kebhinekaan Indonesia yang terus diperjuangkan sepanjang perjalanan Kemerdekaan yang kemudian terpola dalam frame pelayanan seakan menjadi onak. Butuh sentuhan dan intervensi nilai dikala para pelayan negeri ini terbuai dan tak mampu melepaskan diri dari benang benang euvoria. (Menikmati kesenangan diatas jualan zaman amanat penderitaan rakyat).

Presiden Jokowidodo, rupanya sadar akan ketertinggalan nilai nilai dasar yang semestinya dimiliki dan melekat dalam diri anak anak negeri ini. Ide briliannya yang populer diawal kepemimpinannya yaitu mengembalikan kesadaran para pelayan negeri ini akan budaya Malu.

Budaya Malu dan berlalu dari rasa malu besar sebenarnya melekat dalam diri setiap individu. Frase Malu atau dalam kata bahasa Dawan ‘Ti’as’ dan frase Mohon Ijin Pergi (Meninggalkan tempat pertemuan) atau dalam kata bahasa Dawan dikenal dengan istilah ‘Kuita’, adalah bukti kata yang lalu diikuti dengan tindakan. Siapapun dia orang Dawan pasti paham benar. Buktinya, orang Dawan pada umumnya, sering berlaku sopan dengan setiap lawan bicaranya. Kata, sikap dan tindakan selalu berjalan selaras.

Akhir akhir ini, karena pengaruh luar dengan sejuta arus informasi, Kata Ti’as (Malu) dan Kuita (mohon ijin pergi) rupanya tidak berdampak positif. Bak disimpang jalan, Ti’as dan Kuita, kini berubah wajah. Banyak elite Timor yang sudah jauh dari spirit Ti’as (Malu) dan Mohon Ijin Pergi (Kuita).

Seiring perjalanan waktu, ‘Awasan’ Malu (Ti’as) dan Mohon Ijin Pergi (Kuita), layaknya ‘Peluang’ besar bagi para pelayan pecinta euvoria diatas amanat penderitaan rakyat. Tanpa rasa Malu, orang kemudian Berlalu dan Pergi dengan membawa sejumlah keuntungan besar. Rasa solider, senasip seperjuangan, tepo seliro, tenggang rasa dan rasa memiliki sudah jauh dari semangat pelayanan. Tegur sapa hanya sebatas basa-basi.

Pernyataan lepas, Ini surat pemberitahuan disertai penjelasan gamblang ada pekerjaan proyek Cipta Karya di Desa Koa. Soal seperti apa kegunaannya, DED-nya seperti apa, apakah ada MOU dengan pemerintah Daerah dan bukti penyerahan aset warga bukan domain warga setempat adalah fakta yang sudah dan sementara terjadi di TTS. Jelasnya ada Pekerjaan Jalan sepanjang empat Kilo meter lebih yang menelan anggaran APBN sebesar Rp 5.842.760.000. Begitupun yang terjadi di Kupang, Dinas PU Provinsi, seakan merasa akan kehilangan lahan garapan, dan tanpa permisif (mengenyampingkan Perintah Perpres nomor 70 tahun 2012 tentang perubahan atas Perpres nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), dengan bersembunyi dibalik segudang dalil dan alasan standar, lalu melaksanakan proses tender sendiri (PU Net) semenjak tahun 2012 hingga tahun 2016. Padahal hal yang benar adalah (Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa) ULP-lah yang diakui negara dan masuk dalam Lembaran Negara Republik Indonesia dan bukan PU Net. Itu artinya semua SKPD wajib hukumnya tanpa kecuali harus melakukan seluruh tahapan proses Tender Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dibawah satu atap uang yang bernama ULP.

 Miris, tapi begitulah riak besar yang kini terjadi. Sejumlah argumen yang dikemukan tanpa rasa malu dan kemudian pergi dan berlalu tanpa beban akan menjadi darasan panjang tulisan fajartimor, dengan harapan akan ada penolong yang baik bagi warga Nusa Tenggara Timur yang datang dari Timur. Dia yang baik itu kini telah ada didepan mata kita (Rajawali dari Timur). Frase Ti’as dan Kuita, adalah filosofi hidupnya. Dibenaknya kata Ti’as dan Kuita layaknya awasan pelayanan yang harus dijalankan dan diamankan untuk selanjutnya diamanahkan kepada rakyat, dan bukan dilihat sebagai peluang yang lalu membutakan matanya. Baginya rakyat NTT adalah Biji Matanya. Wasalam (Boni Lerek).

About Bony Lerek

Scroll To Top