Home / Catatan Redaksi / ‘Wajah Kusut Marhaen’
‘Wajah Kusut Marhaen’

‘Wajah Kusut Marhaen’

Fajartimor. Ha ha, Sudah bukan rahasia, kelompok Kapitalis yang kini bertransformasi (menjelma) sebagai Marhaenis, perlahan menguasai sendi-sendi perjuangan hakiki kelompok Marhaen sejati.

Ritus kerja bernafaskan gotong royong terpimpin yang diimani, perlahan tergerus arus tekanan superioritas kelompok Kapitalis.

Tendensi pragmatis, yang terus saja menggejala, seolah dibiarkan menggelinding tak tentu arah.

Gerbong Marhaen yang sudah tertata dan menjadi lokomotif pergerakan keberpihakan, disasar hingga tak berkutik.

Janji palsu dibarengi sepucuk surat berharga yang disusupkan di kantong sementara Marhaen, ibarat pola hipnotis yang memesona.

Fakta kekinian terpapar, Wajah sumringa kelompok Kapitalis  rupanya bertabur kepuasan ibarat serenade (nyayian rayuan) yang dikumandangkan penuh sorak-sorai.

Aturan baku Marhaen yang tersurat dalam garis-garis perjuangan yang sedianya akan dilabrak dan dilangkahi rupanya menjadi sebuah keniscayaan.

Masa depan Marhaen yang terus terukur dengan sulaman-sulaman senasip sepenanggungan, tepo seliro, rela berkorban, berbagi asa dan tanggungjawab ditikar dan dibiarkan tak terurus.

Kesepahaman dalam semangat kolektif kolegialitas, yang menjiwai para pencetus, pemrakarsa dan peletak dasar marhaen seakan dipasung karsa bertabur kreatifitas pragmatis.

Ha ha, Kaum idealis, pro progresifitas ideology Marhaen, yang terus saja bertahan, dibuat kusut dan lamban bertindak.

Mereka hanya bisa bergumam kehendak tanpa bertarung kisah dan kasih.

Mungkin dibenak mereka, usaha memerangi sentimen dan arus tekanan kelompok kapitalis berlabel Marhaen akan bersua bertepuk sebelah tangan, karena ada saja keyakinan, sesama tokoh sekaligus pemilik ideology Marhaen sudah terpapar tekanan kepentingan sesaat kelompok kapitalis.

Dalam temaran angin kencang, terngiang harapan dalam kekusutan wajah Sang Marhaen Sejati, bahwa akan datang pemilik sejatinya Marhaen, dengan tindakan hukuman kepada kelompok kapitalis, yang tentunya dilakukan di lorong-lorong dan di balik dinding Marhaen tanpa suara.

Namun satu yang pasti, Wajah kusut Marhaen, terlihat muram nurjanah, pucat dan tak beraura. Dan begitulah realita yang kini terjadi.

Catatan kecilnya, Marhaen adalah bukan nama yang biasa di Sunda, tidak sama biasanya dengan nama Jones atau Smith di Amerika. Marhaen, seperti halnya “Jasmerah”, adalah akronim dari Karl Heinrich Marx – Georg Wilhelm Friedrich Hegel – Friedrich Engels (Marx-Hegel-Engels). Tiga tokoh besar yang pemikirannya coba diramu oleh Sukarno, dan kini terus diejawantakan anak ideologinya dari pusat hingga daerah. (ft/boni)

About Bony Lerek

Scroll To Top