Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPD PDI Perjuangan NTT Ingatkan Warga Waspada Cuaca Ekstrem

Artikel ini Telah di Baca 1,382 Kali
  • Bagikan

Kupang, fajartimor.com — Langit Nusa Tenggara Timur kembali menggantungkan tanda-tanda muram. Awan tebal yang mengalir dari Laut Banda menjadi isyarat bahwa musim hujan tahun ini tidak datang sebagai kesejukan semata, tetapi membawa anomali cuaca yang kian sering melampaui kewajaran.

Di tengah perubahan pola alam yang sulit ditebak itu, Elisabeth Yuliana Adoe atau akrab disapa Lili Adoe, Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPD PDI Perjuangan NTT, mengingatkan seluruh warga agar meningkatkan kewaspadaan.

Peringatan ini  sampaikan kepada fajartimor.com pada Senin (8/12/2025), sebagai bentuk tanggung jawab moral dan politik terhadap keselamatan masyarakat NTT.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk 8–14 Desember akibat sirkulasi siklon di Laut Banda. Kondisi ini berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang di seluruh wilayah NTT,” ujar Lili Adoe.

Ia juga menyoroti risiko lanjutan yang kerap luput dari perhatian publik, terutama potensi banjir lahar hujan di kawasan Gunung Lewotobi, Flores Timur, serta gelombang tinggi di Samudra Hindia Selatan NTT yang dapat mengancam jalur pelayaran nelayan dan transportasi laut serta ancaman badai ekstrim  terhadap permukiman warga di sepanjang garis pantai bahkan ancaman longsoran tanah yang acap kali merusak permukiman warga di lereng bukit dan gunung.

Menurut Lili, di tengah musim yang makin sulit diprediksi, kewaspadaan adalah benteng terdekat yang bisa dibangun masyarakat.
Mari bersikap siaga, rasional dalam meneruskan informasi, dan berorientasi pada keselamatan. Bukan cemas berlebihan, tetapi tetap waspada. Utamakan keselamatan diri, keluarga, dan orang sekitar,” tegasnya.

Anggota DPRD NTT, Fraksi PDI Perjuangan ini juga menambahkan bahwa berbagai elemen pemerintah, relawan, hingga struktur partai di tingkat kabupaten/kota telah diminta menyiapkan langkah cepat bila terjadi situasi darurat, termasuk memantau wilayah rawan longsor dan banjir.

Musim hujan kali ini, lanjutnya, bukan sekadar pergantian cuaca, tetapi potret jelas bagaimana anomali iklim global mulai mencengkram kawasan-kawasan rentan seperti NTT. “Alam mungkin berubah, tetapi kesiapsiagaan manusia harus tetap tegak,” tutup Lili Adoe. (Ft/tim)

  • Bagikan