Home / Berita utama / ‘Warga Setempat Diupah sebesar Rp 3000’
‘Warga Setempat Diupah sebesar Rp 3000’

‘Warga Setempat Diupah sebesar Rp 3000’

rDana Desa Erbaun Tahun Anggaran 2017.

Kab,Kupang, fajartimor.com – Bukan pemberdayaan masyarakat, bukan juga gotong royong. Tapi yang terjadi justru warga diupah sebesar Rp 3000 untuk pekerjaan pemasangan batu pinggir, persisnya di lokasi pembukaan jalan baru Oesain Dusun III Desa Erbaun.

Lima orang warga Oesain Dusun III Desa Erbaun dengan dibantu anak anak usia sekolah yang berhasil dijumpai fajartimor (Minggu, 21/08/2017) di lokasi kegiatan pekerjaan pembukaan jalan baru Oesain sepanjang 800 meter dengan total anggaran sebesar Rp 108 juta lebih menuturkan bila pihaknya diupah sebesar Rp 3000 untuk pemasangan batu pinggir.

Gambar, Lima orang warga upahan yaang dibantu anak anaknya di lokasi pekerjaan pembukaan jalan baru Oesain, Dusun III Desa Erbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, saat bertemu fajartimor. (foto/dok.Boni)

Gambar, Lima orang warga upahan yang dibantu anak anaknya di lokasi pekerjaan pembukaan jalan baru Oesain, Dusun III Desa Erbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, saat bertemu fajartimor di lokasi setempat. (foto/dok.Boni)

“Kita disuru kerja pasang batu pinggir. Karena ini perintah kepala desa ya warga ikut saja. Tapi itupun hanya kami berapa orang”, aku Marthen Oetemoesu diamini Lukas Kase dan warga lainnya.

Soal isi RABnya seperti apa kata Lukas Kase, Marthen Oetemoesu dan tiga orang warga lainnya sama sekali tidak diketahui.

“Kami tidak tahu RABnya seperti apa! Anggota TPK yang harusnya mengontrol malah ikutan kerja dan tidak tahu isi RAB dari pekerjaan tersebut”, kupas mereka.

Soal upah pemasangan batu pinggir yang hanya senilai Rp 3000 rupiah lanjut warga rupanya membuat warga kebanyakan tidak tertarik dan beralih mengumpul asam yang dinilai per kilonya seharga Rp 8000.

“Awalnya memang ada pengumuman dari aparat desa agar warga bisa ikut berperan mengerjakan penyusunan batu pinggir. Tapi ketika mengetahui beban kerja sepanjang satu meter lari dihargai sebesar Rp 3000, warga lainnya memutuskan untuk beralih mengumpulkan Asam karena satu kilo Asam dihargai Rp 8000,00. Begitu pak!”, ungkap Marthen Oetemoesu dan Lukas Kase diamani lainnya.

Lainnya, Lukas Kase yang tidak memahami tujuan utama Dana Desa tersebut spontan mengatakan bila dirinya sehari dapat menghabiskan beban kerja (pemasangan batu pinggir) sebanyak 40 meter lari.

“Karena nilainya Rp 3000,  ya saya kejar target sampai 40 meter lari per satu hari. Setelah itu saya langsung dibayar”, kata Lukas polos.

Informasi fajartimor, Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk tiga lokasi pekerjaan jalan (Oesain Dusun III, Oeana/samping Gereja yang berbatasan dengan Desa Sahraen juga pekerjaan pelebaran bahu kiri-kanan jalan Haukoto-Oeana tidak disiapkan Kades Daud Nobrihas. Mirisnya lagi soal pekerjaan jalan Oeana/samping gereja setempat dan pekerjaan jalan Haukoto-Oeana, seluruhnya dikerjakan pihak ketiga tanpa melibatkan warga. Jika demikian, tujuan pemberdayaan masyarakat dari Dana Desa tersebut yang tentunya terbaca pada nomen klatur HOK (Hari Orang Kerja) dengan total nilai perhari-nya sebesar Rp 50500,00  sampai hitungan Rp 62500,00 mau dibawa kemana? Atau jangan jangan nilai itu dan lainnya adalah harga negosiasi yang akan masuk ke kantong pribadinya sang kades? (ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top