Home / Hukrim / Yulius Weni, Sebatang Kayu Lurus yang Diambil Pemalak!
Yulius Weni, Sebatang Kayu Lurus yang Diambil Pemalak!

Yulius Weni, Sebatang Kayu Lurus yang Diambil Pemalak!

Kota, fajartimor.com- Bak sebatang kayu lurus di hutan rimba, Yulius Weni pun kemudian menjadi korban para pemalak liar. Namun dugaan kriminalisasi terhadap Yulius Weni, Sang Guru Olahraga yang baik dan jujur itu, kini perlahan menguak.

Kepada fajartimor.com, Jum’at (17/7) sejumlah pemerhati hukum kota kupang mengatakan Jujur dan iklas melayani anak anak bangsa di masa ini bukanlah hal yang patut lagi. Bertindak lurus dan benar di negeri ini, layaknya sebatang kayu lurus ditengah tengah sejumlah kayu bengkok akan menjadi makanan empuk pemalak liar.

“Kenyataan itu, kini dirasakan seorang Yulius Weni, Guru Olahraga SD Inpres Perumnas I Kota Kupang. Keiklasannya mendidik anak anak bangsa dengan memberi pelatihan renang secara manual di lokasi kolam renang justru dimanfaatkan para pecundangnya. Hemat kami, Kasus pelecehan seksual yang lagi booming di negeri ini, rupanya dijadikan sebagai modus baru untuk menjatuhkan seorang Yulius Weni. Dan Goalnya selain memuluskan akal bulus sang aktor, ya untuk mendapatkan reputasi dan popularitas semu, gitu”, jelas meraka.

Dikatakan pengakuan sejumlah siswi yang tertuang dalam surat pernyataan penarikan laporan polisi seyogyanya menjadi pertimbangan Jaksa dan Hakim dalam menuntut dan memutus perkara tersebut. “surat pernyataan penarikan laporan polisi dari sejumlah siswi yang ditandatangani para orangtua wali harusnya menjadi dasar pertimbangan Jaksa Penuntut dan Majelis Hakim. Kontennya jelas. Ada aktor yang nota bene seorang Susana.A Lelang (Kepala sekolah). Ada Arahan kepada sejumlah siswi dengan modus pelecehan seksual dan ada pengakuan siswi bahwa tidak terjadi pelecehan seksual seperti yang dituduhkan. Kesimpulannya adalah bahwa Yulius Weni dalam perkara ini adalah korbannya”, terang mereka.

Jauh dikatakan, tuntutan profesi seorang guru olahraga, tentunya diikat dengan kode etik profesi. Karena itu seorang guru olahraga tidak mungkin bertindak diluar batas kewajaran terhadap seorang anak didiknya. “Ketika sekolah belum dilengkapi dengan peralatan renang modrn, maka pendidkan renang tentu saja dilakukan secara manual. Karena itu membantu siswa melayang diatas permukaan air dengan ditopang oleh kedua tangan sang guru olahraga (Yulius Weni), merupakan salah satu perwujudan metode manual yang menjadi sebuah kaharusan seorang guru olahraga. Karena itu tidak lah benar Yulius Weni, menggunakan profesinya sebagai guru olahraga untuk melakukan pelecehan seksual sebagaimana yang dituduhkan pada saat pendidikan renang di sekolah tersebut”, urai Mereka.

Seperti disaksikan fajartimor.com di Rutan Penfui, Yulius Weni yang terlihat sabar dan sesekali menunjukan ketegarannya berharap, kasus yang menimpa dirinya boleh terbuka kembali secara terang benderang. “saya terus berdoa dan berpuasa. Dan saya percaya kasus yang sudah menggerogoti kehormatan saya sebagai pribadi, guru dan kepala keluarga akan terbuka lagi secara terang benderang. Saya pun yakin pada saatnya kebenaran kasus ini akan terungkap”, aku Yulius.

Data fajartimor.com, ada Surat Pernyataan penarikan laporan polisi atas nama Yane Ba’i (tertulis; Yane Bay), umur 12 Tahun, jenis kelamin perempuan, Pekerjaan siswa SD, beralamat di Jalan Bakti Karang, yang menyatakan dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari orang lain. Kontennya: Saya sebagai pelapor dalam perkara ini, Mencabut dan Menarik kembali pengaduan dan atau laporan nomor: LP/B/306/IX/2014 di Sektor Kelapa Lima, tanggal 25 September 2014. Saya tidak bersedia memberikan keterangan kepada pihak yang berwenang, baik ditingkat Penyidikan, Penuntutan dan di Pengadilan. Surat pernyataan tersebut  juga ditandatangani orang tua wali yang bersangkutan atas nama Thomas Kase disaksikan Martha Suan. (ft/tim)

About Bony Lerek

Scroll To Top