Kupang, fajartimor.com — Nada kritis dilontarkan Yohanes Rumat saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III bersama jajaran direksi Bank NTT, Rabu (25/3/2026). Politisi PKB yang akrab disapa Hans Rumat itu menegaskan, arah bisnis Bank NTT tidak boleh lagi bertumpu pada zona nyaman kredit konsumtif, terutama bagi kalangan pegawai.
“Kalau Bank NTT terus bertahan di pola lama, ini berbahaya. Kita bisa kehilangan momentum pembangunan, bahkan berpotensi ikut menyumbang kemiskinan,” tegas Hans dalam forum yang berlangsung di DPRD NTT.
Kepada media di ruang Fraksi PKB NTT, Hans memperjelas posisinya: Bank NTT memegang peran strategis sebagai penggerak ekonomi rakyat. Namun, peran itu hanya akan nyata jika keberanian transformasi benar-benar dilakukan.
“Bank NTT ini salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi rakyat NTT. Tapi kontribusi itu harus diperbesar lewat sektor produktif, bukan sekadar angka laba,” ujarnya.
Menurut Hans, sebagai Bank Pembangunan Daerah, Bank NTT memikul dua fungsi sekaligus: mesin bisnis yang menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan agen pembangunan (agent of development). Ketimpangan dalam menjalankan dua peran ini, kata dia, justru bisa menjadi bumerang.
Ia menyoroti pentingnya pergeseran fokus pembiayaan ke sektor riil seperti UMKM, pertanian, peternakan, dan perikanan. Sektor-sektor ini dinilai memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang lebih kuat terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Kalau kredit produktif tidak diperkuat, maka ekonomi rakyat tidak bergerak. Bank NTT jangan hanya jadi penonton,” katanya dengan nada tegas.
Hans juga menyinggung perlunya inovasi dalam digitalisasi UMKM. Ia menilai Bank NTT harus aktif membawa pelaku usaha lokal masuk ke ekosistem digital agar mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Selain itu, ia mendorong optimalisasi program pembiayaan infrastruktur daerah serta penguatan sinergi melalui Kelompok Usaha Bank (KUB) yang telah dijalankan beberapa tahun terakhir. Menurutnya, penguatan modal harus berdampak langsung pada ekspansi kredit produktif.
Namun kritik paling tajam disampaikan Hans terkait risiko tata kelola yang buruk. Ia mengingatkan, jika Bank NTT tidak dikelola secara profesional tentunya ditandai dengan tingginya kredit macet atau pelayanan yang lemah maka dampaknya bukan hanya pada institusi, tetapi juga masyarakat luas.
“Kalau salah kelola, ini bukan hanya jadi penghambat ekonomi, tapi bisa mematikan UMKM. Itu sama saja menyumbang kemiskinan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengakui kinerja keuangan Bank NTT menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun ia menegaskan, capaian laba tidak boleh menjadi satu-satunya indikator keberhasilan.
“Pertanyaannya, apakah laba itu sudah terasa di masyarakat? Apakah kemiskinan turun? Kalau tidak, berarti ada yang salah,” katanya.
Hans menutup dengan pesan tegas: transformasi Bank NTT menjadi Perseroda bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Oleh karena itu Fokus Perseroda pada inklusi keuangan, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan sektor produktif harus menjadi arah utama ke depan.
“Bank ini milik rakyat NTT. Jadi ukurannya jelas, rakyat harus sejahtera, bukan sekadar laporan keuangan yang terlihat bagus,” pungkasnya. (Ft/boni)









