BARU SELESAI DIKERJAKAN, SUDAH PECAH!

Artikel ini Telah di Baca 2,403 Kali
  • Bagikan
Belum selesai dikerjakan, Pekerjaan preservasi jalan tersebut sudah retak. (Foto.doc)
Belum selesai dikerjakan, Pekerjaan preservasi jalan tersebut sudah retak. (Foto.doc)

Kupang, fajartimor.com – Proyek preservasi jalan nasional di wilayah Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, yang baru saja dikerjakan, kini menuai sorotan tajam. Aspal hotmix yang belum genap hitungan bulan dihampar, sudah tampak retak bahkan hancur di sejumlah titik. Retakan memanjang, pecah menyerupai pola jaring laba-laba, hingga permukaan yang mulai terkelupas menjadi pemandangan kontras dari papan proyek bernilai miliaran rupiah.

Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tersebut berada di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Nusa Tenggara Timur dan Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Prov. NTT.

Data Proyek

Paket Pekerjaan: Preservasi Jalan Jl. Titus Nau, Jl. Mollo Sujan, Jl. Mollo Oetun
Lokasi: Kota Kupang, Provinsi NTT
Nomor Kontrak: HK 0203-Bpjn11.6.1/850
Tanggal Kontrak: 03 Desember 2025
Nilai Kontrak: Rp 22.272.477.000,00
Sumber Dana: APBN Murni TA 2025
Waktu Pelaksanaan: 29 hari kalender
Waktu Pemeliharaan:** 365 hari kalender
Kontraktor: PT. Amar Jaya Pratama
Konsultan Pengawas: PT. Arci Pratama Konsultan

Pakar: “Ini Bukan Soal Cuaca, Ini Soal Mutu”

Sejumlah pakar konstruksi jalan menilai, kerusakan dini seperti ini hampir mustahil terjadi jika seluruh tahapan teknis dijalankan sesuai spesifikasi.

Salah satu akademisi teknik sipil yang dihubungi media ini, Rabu (25/02/2026) menyebut, retak dini pada umur yang sangat muda adalah indikator kuat adanya persoalan mendasar.

“Aspal hotmix yang dikerjakan dengan standar Bina Marga, dengan pondasi dan pemadatan yang benar, tidak mungkin retak dalam hitungan minggu atau bulan. Kalau itu terjadi, hampir pasti ada masalah pada kepadatan, ketebalan, atau kualitas material,” tegasnya.

Ia menjelaskan, retak tipe fatigue cracking atau retak buaya biasanya muncul akibat kegagalan struktur pondasi. Jika agregat tidak dipadatkan maksimal dan tanah dasar labil, maka beban kendaraan akan langsung memukul lapisan atas. Aspal hanya menjadi korban dari fondasi yang rapuh.

Lebih jauh, ia menyinggung waktu pelaksanaan yang relatif singkat, yakni 29 hari kalender untuk paket pekerjaan bernilai Rp22,27 miliar yang kemudian dipangkas menjadi Rp 16 miliar lebih.

“Pertanyaannya sederhana: apakah semua tahapan, mulai dari uji CBR tanah dasar, penghamparan berlapis, hingga uji kepadatan minimal 98 persen, betul-betul dilakukan? Atau sekadar mengejar progres fisik?”, sindirnya.

Retak adalah Bukti

Secara teknis, retaknya hotmix adalah hasil korelasi antara tiga variabel utama yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Jika satu saja longgar, hasilnya akan terlihat di permukaan.

Lebih jauh dijelaskan bahwa Tanah dasar yang lunak atau tidak distabilisasi dengan baik akan mengalami penurunan diferensial. Dampaknya, aspal retak mengikuti deformasi di bawahnya. Ini bukan sekadar cacat kosmetik, ini kegagalan struktur.

Sementara terkait Aspal hotmix menurutnya, harus dihampar pada suhu ideal. Karena ketika Terlalu dingin, tidak menyatu dan Terlalu panas, menjadi getas. Pemadatan yang tidak mencapai standar membuat rongga udara tinggi, air mudah masuk, lalu menghancurkan ikatan aspal dari dalam. Retak adalah konsekuensi logis.

Lainnya lagi Jika ketebalan aktual lebih tipis dari desain, daya tahan terhadap beban lalu lintas otomatis turun drastis. Dalam kondisi lalu lintas berat atau overtonase, retak dini hampir tak terhindarkan.

Masih menurutnya, Air adalah musuh utama jalan aspal. Drainase buruk mempercepat kerusakan. Air yang meresap melemahkan pondasi, dan dalam siklus panas-hujan ekstrem, aspal memuai–menyusut hingga pecah.

Dengan nilai kontrak Rp22,27 yang kemudian mengalami optimasi Rp 16 miliar lebih dari APBN, publik tidak hanya berhak tahu, publik berhak curiga ketika hasil di lapangan tak sebanding dengan angka di papan proyek.

Apakah pengawasan dilakukan ketat?
Apakah konsultan benar-benar menguji mutu campuran (job mix formula)?
Apakah ada uji core drill untuk memastikan ketebalan sesuai spesifikasi?

Karena dalam konstruksi jalan, retak dini bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah indikator kualitas.

Kerusakan ini memang kabar buruk bagi pengguna jalan. Namun dalam perspektif kontrol sosial, ini adalah kabar baik. Retaknya aspal membuka ruang audit teknis sebelum kerusakan meluas dan anggaran kembali terkuras untuk tambal sulam.

Jalan nasional adalah urat nadi ekonomi. Jika baru selesai sudah pecah, maka yang patut diuji bukan hanya aspalnya melainkan sistem pengawasannya.

Kini publik menunggu langkah konkret. Apakah kontraktor akan memperbaiki dalam masa pemeliharaan 365 hari? Ataukah retak ini akan menjadi retak kepercayaan terhadap kualitas proyek negara?

Sebab ketika jalan baru sudah hancur, yang runtuh bukan hanya lapisan hotmix melainkan kredibilitas.

Informasi media ini menyebutkan bahwa lalu lintas kendaraan dengan tonase besar dipastikan belum melintasi jalan tersebut. Namun faktanya sudah retak dan pecah like badan buaya di sejumlah titik. (Ft/tim)

  • Bagikan
Exit mobile version