Di Antara Langit dan Ibu Pertiwi: Elegi Safirah Cornelia Abineno dalam Sunyi Jabatan

Artikel ini Telah di Baca 2,666 Kali
  • Bagikan
DRA. Safirah Cornelia Abineno saat menerima penghargaan Indonesia Most Trusted School Award 2024. (Foto istimewa)
DRA. Safirah Cornelia Abineno saat menerima penghargaan Indonesia Most Trusted School Award 2024. (Foto istimewa)

Kupang, fajartimor.com – Di tanah berdebu angin timur, di sudut kota Kupang yang memelihara matahari lebih lama dari kota-kota lain, seorang perempuan berdiri dalam ketidakpastian yang tak pernah ia pilih. Namanya Safirah Cornelia Abineno, seorang ibu, seorang pendidik, seorang janda yang menanggung sunyi dengan ketegaran.

Ia masih tercatat dan diakui sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 5 Kupang. Hingga hari ini, lembar-lembar administrasi negara masih menyebut namanya dengan darasan kalimat yang tegas: Kepsek SMK Negeri 5, konduita baik. Bahkan kenaikan berkala tetap mengalir sebagaimana mestinya, seakan tak ada badai yang menggoyang dahan-dahan kepemimpinannya.

Namun, di balik tinta resmi yang tak pernah bergetar itu, tersimpan tanya yang menggantung di udara: mengapa seorang ibu dibiarkan berdiri di lorong ketidakjelasan? Mengapa kepastian jabatan terasa seperti bayang-bayang yang menjauh ketika hendak diraih?

Safirah tidak menggugat dengan teriakan. Ia memilih diam yang bermakna. Ia memilih menengadah.

Di suatu senja yang lembut, ketika cahaya jatuh seperti doa yang tak selesai, ia memohon kepada Ibu Pertiwi, tanah Indonesia, tanah Kupang dengan darasan sakralnya, Eno Mma Toi Kopan, Kopa Ana, Mantasi Ana, Kopnan Pan Muti, Mma Lilo Baknase, yang telah menumbuhkan langkah-langkahnya sejak muda. Bumi yang terus merawatnya dengan sabar, meski manusia kerap alpa pada keadilan.

Dengan suara pelan, nyaris seperti desir angin di sela dedaunan, ia berucap:

“Terkutuklah mereka semua yang menelantarkan seorang Ibu, dan terberkatilah mereka yang terus menjaga sang Ibu.”

Kalimat itu bukan sumpah serapah, melainkan jeritan nurani. Bukan amarah yang meledak, melainkan doa yang terluka. Sebab seorang ibu terlebih ibu bagi ratusan anak didik adalah mata air yang tak seharusnya dibiarkan mengering oleh ketidakpastian. Namun satu yang pasti rintihannya kini tersampaikan ke Pertiwi keramat di setiap titik di kopan hingga Naomusain.

Buktinya, di ruang-ruang kelas, namanya tetap disebut. Di meja kerjanya, berkas-berkas penting terus mencarinya untuk tetap ditandatangani. Tanggung jawab tidak ia tanggalkan, meski kejelasan tak kunjung ditegakkan. Ia hadir, sebagaimana fajar yang tak pernah gagal datang, walau langit kadang menutup diri dengan awan.

Anehnya, pengakuan formal masih melekat utuh. Administrasi tidak mencabut namanya. Sistem tidak menghapus jejaknya. Bahkan konduita baik masih menjadi mahkota kecil yang tertera di atas kertas resmi. Maka pertanyaan itu kian lirih namun tajam: jika ia masih diakui, mengapa ia seolah dibiarkan menunggu di ambang pintu yang tak kunjung dibuka sepenuhnya?

Safirah Cornelia Abineno adalah potret tentang keteguhan seorang perempuan dalam pusaran ketidakjelasan. Ia tidak meminta takhta, hanya kepastian. Ia tidak mendamba pujian, hanya keadilan yang terukur.

Dan kepada langit yang luas, ia terus mengirimkan harap bahwa suatu hari, mereka yang menelantarkan akan belajar tentang arti menjaga; bahwa mereka yang menjaga akan tetap diberkati oleh bumi yang sama.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang setia berdiri ketika kepastian tak berpihak. (Boni)

  • Bagikan
Exit mobile version