Jalan Rusak dalam Waktu Singkat, Pekerjaan Proyek Jalan Mollo-Sujan, Fatukoa Diduga Bermasalah

Artikel ini Telah di Baca 917 Kali
  • Bagikan
Gambar, Kondisi salah satu titik Jalan Mollo-Sujan yang baru selesai dikerjakan. (foto.doc)
Warga Oetun Minta APH dan BPK RI Uji Ketebalan Overlay Jalan Mollo-Sujan

Kupang, fajartimor.com – Pekerjaan preservasi jalan segmen Mollo-Sujan, Titus-Nau, dan Mollo-Oetun yang dikerjakan oleh kontraktor dengan anggaran Rp 22,27 miliar, yang kemudian dipangkas menjadi Rp 16,8 miliar, diduga kuat tidak sesuai dengan standar teknis dan tahapan konstruksi jalan yang benar. Warga Oetun yang resah atas kondisi tersebut mengungkapkan kekecewaannya, karena jalan yang baru saja selesai dikerjakan kini sudah rusak dan retak di sejumlah titik.

Warga setempat, yang menghubungi media ini pada Sabtu (28/02/2026), mengungkapkan kecurigaan terhadap kualitas pekerjaan yang hanya berlangsung 29 hari kalender tersebut. Mereka menilai ada banyak kelalaian dalam pengerjaan proyek ini, salah satunya adalah ketebalan lapisan hotmix yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh Spesifikasi Umum Bina Marga.

Menurut mereka, ketebalan lapisan permukaan (Wearing Course – AC-WC), lapisan antara (Binder Course – AC-BC), dan lapisan fondasi (Base Course – AC-Base) yang seharusnya memenuhi standar tertentu ternyata diduga tidak dipenuhi.

Berdasarkan spesifikasi, ketebalan lapisan permukaan harusnya sekitar 4 hingga 5 cm, lapisan antara minimal 4 hingga 6 cm, dan lapisan fondasi bisa mencapai 7,5 cm. Namun, pekerjaan yang dilakukan jauh dari harapan ini terlihat jelas dari cepatnya kerusakan yang terjadi.

Selain itu, ketebalan lapisan aspal yang seharusnya dipadatkan dengan baik menggunakan alat berat, seperti tandem roller atau pneumatic tire roller, juga dipertanyakan. Lapisannya tampak tidak padat dan mudah rusak, meski pengerjaan proyek sudah dinyatakan selesai.

Kepala BPJN NTT yang dihubungi media ini untuk mendapatkan klarifikasi belum memberikan jawaban pasti karena diinformasikan lagi berada di luar daerah. Namun sejumlah pihak menduga ada masalah dalam pengawasan dan kualitas bahan yang digunakan. Proyek yang terkesan dipaksakan selesai dengan cepat, dinilai mengabaikan prinsip kehati-hatian dan ketelitian dalam pembangunan infrastruktur yang seharusnya mengutamakan daya tahan dan keselamatan.

Pekerjaan ini pun menambah daftar panjang proyek jalan yang bermasalah di NTT, mengundang kecurigaan publik bahwa proyek-proyek semacam ini lebih mengutamakan kecepatan penyelesaian dan anggaran semata, daripada kualitas dan keberlanjutan penggunaan jalan itu sendiri. (Ft/tim)

  • Bagikan
Exit mobile version