Kupang, fajartimor.com – Tragedi memilukan kembali menampar nurani publik Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini diduga kuat dipicu kemiskinan ekstrem—ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar pendidikan yang nilainya bahkan tidak sampai sepuluh ribu rupiah.
Peristiwa tersebut menuai kecaman keras dari Alfred Baun, pengamat sosial, juga ketua Araksi NTT sekaligus narasumber fajartimor.com, yang menyebut tragedi ini sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi rakyat miskin, khususnya anak-anak.
“Ini bukan sekadar tragedi keluarga. Ini tamparan keras bagi nurani kita semua. Di saat banyak orang menghamburkan uang untuk hal sia-sia, ada anak kecil yang harus mempertaruhkan nyawanya hanya demi buku dan pena,” tegas Alfred Baun.
Menurutnya, kemiskinan ekstrem di NTT bukanlah angka statistik belaka yang nyaman dipresentasikan dalam laporan pemerintah. Ia menyebut kemiskinan telah berubah menjadi “predator” yang merenggut nyawa anak-anak polos yang seharusnya dilindungi negara.
Alfred Baun secara terbuka menuding negara gagal menjalankan mandat konstitusionalnya dalam program pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial.
“Negara gagal menghidupkan orang miskin di NTT. Negara tidak mampu menjamin hidup warganya yang tak berdaya. Ini bukan sekadar malu—ini aib,” katanya.
Ia bahkan mendesak adanya pertanggungjawaban politik secara serius. Alfred menilai kepala daerah tidak bisa lagi berlindung di balik retorika program bantuan dan pencitraan.
“Kalau Gubernur benar-benar merasa malu, jangan berhenti di kata-kata. Harus berani minta Presiden mencopot Bupati Ngada, Kepala Dinas Sosial, dan semua pejabat yang terkait langsung dengan bantuan pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Pecat semua,” kecamnya.
Lebih lanjut, Alfred menyebut ironi besar ketika pemerintah daerah terus berbicara soal bantuan pendidikan, ekonomi, dan sosial, sementara seorang anak kecil justru kehilangan harapan hidup di tengah keluarga yang jelas-jelas hidup dalam kemiskinan.
“Percuma bicara program, percuma bicara bantuan. Masa pemerintah kabupaten tidak punya data ekonomi satu keluarga miskin dengan anak sekolah? Ini kelalaian struktural,” ujarnya.
Bahkan, ia menyampaikan sikap moral yang menurutnya seharusnya dimiliki seorang pemimpin daerah.
“Kalau saya jadi Bupati Ngada, saya malu dan pasti mundur. Tidak boleh bergaya sebagai pejabat ketika rakyat mati karena tidak punya uang sepuluh ribu rupiah. Ini kegagalan total kepemimpinan,” tegas Alfred.
Tragedi ini menambah daftar panjang luka sosial di NTT, sekaligus menjadi alarm keras bahwa kemiskinan ekstrem masih nyata dan mematikan. Publik kini menanti, apakah negara akan hadir dengan tindakan nyata, atau kembali membiarkan duka ini berlalu tanpa pertanggungjawaban. (Ft/tim)
